Kita, Generasi Z dan Kegagapan Budaya

Standar

Generasi Z merupakan terma yang dipernkenalkan Barat dan ditempelkan kepada mereka yang terlahir lahir 1995-2010. Seperti yang diungkapkan dalam Teori Generasi (Generation Theory), hingga saat ini dikenal ada 5 generasi, yaitu: (1) Generasi Baby Boomer, lahir 1946-1964, (2) Generasi X, lahir 1965-1980, (3) Generasi Y, lahir 1981-1994, (4) Generasi Z, lahir 1995-2010, dan (5) Generasi Alpha, lahir 2011-2025. Generasi Internet (disebut juga iGeneration, Generasi Net, atau Generasi Internet) terlahir dari generasi X dan Generasi Y (Akhmad Sudrajat, 2012).

Masing-masing generasi memiliki karakter kolektif yang khas dan mirip, khususnya dalam karakter sosial-budaya dan pendidikannya. Di Indonesia, generasi yang lahir tahun ’70-an sampai ’90-an adalah generasi yang dibentuk oleh pemerintahan Orde Baru yang bercorak otoritarian. Bangunan masyarakat yang hidup pasca konflik sosial, terjebak pada konflik sipil dan berakhir kepada sikap saling curiga sesama anak bangsa, pasca G 30 S PKI. Generasi ini dibentuk di atas kecurigaan dan prasangka terhadap perbedaan, karena negara mengajarkan kepada warganya untuk hidup dengan “keseragaman”. Betul sekali, pemerintah era Orde Baru sukses membentuk masyarakat Indonesia dengan wajah “homogen”, walaupun jati dirinya adalah heterogen. Budaya suku etnis tertentu mendominasi budaya nasional (sebutlah kultur Jawa). Maka berlomba-lombalah para orang tua keturunan Tionghoa memberi nama anakanya dengan nuansa Jawa. Maka nama Joko, Anto, Ani, Budi, Badu dan Tono memenuhi tiap alinea di buku-buku pelajaran sekolah kala itu. Tak pernah ditemukan nama-nama seperti Alex, Hutagalung, Aisyah, Wanggai, Sondakh, Wayan, Mey-Mey atau Sangaji dalam buku pelajaran.

Dalam dunia pendidikan, wajah yang muncul adalah, pendidikan menjadi perangkat sakral yang hanya bisa berfungsi jika ditentukan secara absolut oleh guru dan sekolah. Guru menjadi super dominan dalam menentukan masa depan siswa. Pun para orang tua. Sampai-sampai generasi ini terlahir sebagai generasi yang pendek angan-angan. Bahkan cita-citapun harus ditentukan secara mutlak oleh orang tua. Generasi yang tipis kadar imajinasinya. Sebab orang tua, sekolah dan guru adalah kelompok trilogi yang sangat determinan. Betapa kuasanya guru di sekolah, misalnya ketika siswa tidak mengerjakan tugas, maka akan disuruh ke depan kelas berdiri tegak, sambil memegang kedua kuping, dan kaki kiri dinaikkan satu alias berdiri di satu kaki. Ketika SD dulu, kami menyebutkan “tagak itiak”. Ya, kamilah para generasi “tagak itiak” itu, yang lahir dan bersekolah di era 80-90an.

Ketika mengobrol atau berulah pada saat belajar di kelas dan tempat mengaji, guru tak segan-segan memerintah kami ke depan, kemudian menjulurkan keduatangan, lantas “plaakkk…plaakk…plaakk”, terdengar suara pukulan rotan panjang menyentuh kulit kami yang tipis dan dekil itu, sambil mengernyitkan dahi menahan rasa sakit. Bahkan ketika bercanda di saat mengaji dan shalat berjamaah, kami dihukum dengan berendam di kolam, di depan surau setelah shalat Isya berlangsung. Itulah kami, generasi yang dibesarkan oleh pukulan rotan dan cubitan kecil di pusar.

Bagaimana sikap orang tua kami melihat anaknya dihukum oleh guru sekolah? Justru orang tualah pihak yang paling bersyukur di saat anaknya menerima dijemur di tengah terik matahari dan hormat pada bendera merah putih, sebagai hukuman karena bercanda saat upacara hari Senin berlangsung. Selesai diberi hukuman tadi pagi, kemudian pulang sekolah, bukannya mendapatkan perhatian dan senyuman, justru kami disemprot dengan nada marah dari orang tua, mereka ikut-ikutan memarahi kami yang melanggar aturan. Kami menerimanya, tanpa sedikitpun merengek kepada Komnas PA atau KPAI, karena memang lembaga ini belumlah ada. Rasa perih itu dinikmati saja, bahkan menjadi pemacu kami untuk lebih berprestasi dan kuat ke depannya. Ya betul, mental kami sudah terasah dan karakter kami terbentuk. Bahkan di Flores, NTT terkenal semboyan yang dimiliki guru-guru lama, yaitu “di ujung rotan ada kesuksesan” (Kompas, 2012).

Bagaimana Generasi Z saat ini? Sepertinya cerita-cerita yang kami alami dulu itu, akan menjadi onggokan legenda masa lalu bagi mereka. Zaman sudah terbalik katanya. Mereka sudah sadar hak asasi manusia (HAM) dan berkembang dalam alam demokrasi. Generasi Z adalah mereka yang dibesarkan oleh teknologi komunikasi-informasi, mereka adalah manusia yang fasih internet dan dunia siber. Generasi Z ini pulalah yang memiliki andil memproduksi tata bahasa baru dalam perbendaharaan bahasa Indonesia saat ini. Kalau bukan karena mereka yang fasih siber, kita para Generasi X dan Y tak akan pernah mengenal istilah; cyber bullying, loading, upload data, download film, mem-posting foto, high-tech, game online hingga selfie dan gadget.

Mereka para Generasi Z ini diasuh dan dibesarkan bukan lagi oleh ayah dan ibu secara konvensional di rumah, tapi peran ayah/ibu sudah tergantikan oleh peranan internet yang beranak-pinak luar biasa, dengan bentuk derivasi dan perangkatnya seperti youtube, google, gadget, facebook, wikipedia, yahoo, twitter, instagram, we chat dan path. Orang tua asuh mereka adalah youtube, karena intensitas perjumpaan mereka lebih sering dengan “Justin Biber” via youtube ketimbang ibu dan ayah kandungnya, karena sibuk bekerja dan sudah lelah dengan kemacetan ibukota. Fenomena dunia siber ini tak hanya di perkotaan tapi sudah sampai singgah dan menetap di kamar-kamar anak kita di perkampungan.

Jangan kaget jika anak-anak kita sekarang lebih fasih mengucapkan kata gadget (yang dibaca gejet), selfie, upload dan download, ketimbang gawai (penulis pun belajar dari Koran Kompas, karena sepemahaman penulis, Kompas yang pertama kali mengenalkan terma “gawai” sebagai pengganti “gadget”), swafoto, unggah dan unduh. Generasi Z bertranformasi menjadi generasi yang gamang berbahasa ibu mereka. Mereka gagap berbahasa Indonesia, karena tidak pernah mendengar kata unduh dan unggah dalam perbincangannya sehari-hari. Apalagi kata gawai dan swafoto. Kemudian, lebih menakutkannya lagi, para guru mereka di sekolah (termasuk guru Bahasa Indonesia), pun terbawa-bawa oleh bahasa siber ini, sampai-sampai tidak juga kunjung mafhum apa padanan kata yang tepat dalam bahasa Indonesia dari istilah “Stand Up Comedy”. Inilah cerminan bangsa yang minder, inferior atau bermental Inlander kata Soekarno. Sungguh bangsa kita saat ini sudah megalami kegagapan budaya secara kolektif. Karena bagi penulis bahasa adalah cerminan budaya bangsa.

Sebagai khatam tulisan reflektif ini, penulis ingat nasihat Soe Hok Gie bahwa “kita patut belajar kepada Jepang, walaupun tumbuh berkembang dalam lintasan modernisasi, tetapi Jepang tetap tidak kehilangan dan tidak tercerabut dari akar budaya aslinya”.

About satriwan

Saya seorang mahasiswa lulusan jurusan ilmu sosial politik fakultas ilmu sosial unj. Keinginan saya untuk berkuliah di kampus negeri merupakan cita-cita dari kecil. Namun, ragu rasanya hati ini untuk bisa berkuliah, sebab orang tua tidaklah mampu seperti keluarga lain. Saya mencoba meranatu mengikuti jejak orang tua (bapak) untuk bersekolah smp dan SMA di Bogor. Dengan prestasi yang lumayan saya bisa mendaptkan beasiswa ketika di SMA. Sehingga ditawarkan untuk mengikuti program PMDK dari salah satu PTN di Jakarta oleh guru SMA tersebut. Syukur pada Allah, akhirnya saya diterima sebagai mahasiswa di Universitas Negeri Jakarta melalui jalur PMDK. Pengalaman Organisasi 1. Ketua Rohis SMAN 1 Ciawi, Bogor (Periode 2003-2004) 2. Staf Bazis LDK UNJ (Periode 2005-2006) 3. Staf Dep. Kaderisasi Islamic Center Al-Ijtima'i, FIS UNJ (Periode 2006-2007) 4. Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Sosial Politik, FIS UNJ (Periode 2006-2007) 5. Ketua Bidang Pemberdayaan Anggota, HMI Koorkom UNJ (Periode 2006-2007 dan Periode 2007-2008) 6. Ketua Umum Keluarga Mahasiswa Minang (KMM) Koorkom UNJ (Periode 2008-2009) 7. Sekretaris Jenderal Himpunan Nasional Mahasiswa PKN (HIMNAS PKN) (Periode 2008-2009) 8. Aktif di Pusat Kajian dan Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (PKPIS), UNJ

2 responses »

  1. Seperti biasanya, tulisan bapak selalu kritis. senang bisa baca tulisan-tulisan bapak lagi. semoga bapak masih ingat saya ya. sukses terus pak satriwan!🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s