Menjadi Guru yang Ditunggu dan Dirindu

Standar

Pesan judul di atas sangat jelas. Objeknya adalah para pendidik, para guru (termasuk dosen). Dunia pendidikan adalah arena kebudayaan yang sangat luas dan dalam untuk diselami. Sifatnya dinamis, memutus sekat-sekat primordial, apapun latarnya, suatu ikhtiar rasional, berorientasi pada proses, filosofis dan bermakna. Berbagai karakter arena pendidikan tersebut salah satunya ditentukan oleh komponen para pendidik atau guru. Tak usah lagi kita diingatkan oleh “Doktrin Ki Hajar Dewantara”, yang tak lekang oleh panas, tak lapuk oleh hujan. Tapi kebermaknaan pesan transenden Ki Hajar tersebut terus melintasi zaman, dan dimaknai secara totalistik oleh kita para pendidik. Inilah tugas esensialnya.

Relita Pendidikan: Antara Fakta dan Asa

Realita pendidikan nasional kita saat ini memanglah compang-camping. Dusta besar jika kita menutup hati, mata dan telinga atas beragam fakta dalam dunia pendidikan, mulai dari hulu sampai hilir yang berlubang. Namun harapan akan selalu ada, nada optimistik harus selalu ditularkan, setidaknya bagi para guru. Agar tujuan pendidikan nasional suatu saat nanti akan dinikmati oleh para generasi penerus kita. Kunci harapan dan optimisme tersebut ada pada guru. Sebuah profesi bahkan predikat yang melekat, baik struktural maupun secara sosio-kultural di masyarakat. Profesi yang saat ini sudah mulai dilirik dan terus diminati keilmuannya.

Disain pendidikan kita memang sudah terjerembab ke dalam tumpukan berkas-berkas administratif yang baku. Orientasi pendidikan masih sekedar kulit luar yang parameternya adalah deretan angka-angka statistik-kuantitatif. Suatu proses pembelajaran yang sarat pesan dan nilai moral, pada akhirnya diukur oleh angka-angka dalam raport semester. Atau determinasi angkuh Ujian Nasional (UN) yang belumlah konsisten dijalankan sesuai amanah perundang-undangan. Arah kebijakan pendidikan,  sekedar membanggakan alokasi dana yang diklaim melebihi kewajiban konstitusional (20 % APBN dan APBD). Maka faktor kunci arah pendidikan ke depan yang diwariskan oleh orang seperti Ki Hajar Dewantara atau M.Syafei adalah terletak pada pundak seorang guru.

Taklah berlebihan jika saya mengatakan guru adalah kunci utama dan strategis, bagi arah pembangunan pendidikan di masa depan. Jika kualitas gurunya rendah, maka janganlah heran jika pembangunan anak bangsa ke depan pun akan merosot. Negara ini sudah surplus para politisi pendusta, tapi masih minus guru bangsa yang bijak dan berintegritas. Maka peningkatan kualitas guru adalah sebuah kewajiban, baik secara struktural (pemerintah) maupun kultural (oleh masyarakat).

Hantu Keluh-kesah

Bukan waktunya lagi kita para guru terus menggantungkn kreativitas atau inovasi pembelajaran kepada kebijakan sertifikasi dan beragam tunjangannya kepada negara. Bukan lagi solusi ketika kita para guru memenuhi bilik-bilik kelas kita dengan keluh-kesah akan minimnya sarana-prasarana pembelajaran. Sebab tampaknya yang punya kuasa belumlah siuman dari tidur panjangnya dengan untaian mimpi dan fantasi.

Keluh-kesah bilik-bilik kelas yang reot dan atap bocor atau tunjangan yang tak kunjung dicairkan ternyata belum menjadi solusi. Justru tumpukan keluh-kesah tersebut menjadi motivasi sekaligus pelecut kita untuk berbuat yang bermakna bagi para peserta didik. Sungguh membanggakan sekaligus haru, ketika 20-30 tahun mendatang para peserta didik kita menjadi orang-orang yang bermakna dan berbuat bagi lingkungannya. Walaupun dia terlahir dari bilik-bilik kelas reot dan atap sekolah yang bocor tadi.

Kita semua tentu melihat dengan jujur, pesan dari Novel-Film Laskar Pelangi Andrea Hirata. Semangat dan nafas peserta didik kita ditentukan oleh kualitas pribadi seorang guru. Tak butuh yang namanya formalisasi pendidikan karakter, tumpukan berkas Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), lokakarya, sertifikasi guru atau Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG). Kreativitas guru yang akhirnya menular dan menginspirasi terhadap peserta didik, tak ditentukan oleh idiom-idiom aneh tersebut.

Sudah telat dan jauh tertinggal jika idiom yang dipakai adalah “belajar-mengajar”. Karena idiom inilah yang sukses memproduksi kualitas pendidikan nasional yang kering makna filosofis pendidikan dan kebudayaan. Teringat yang dituliskan oleh Paulo Freire dalam “Pedagogy of the Oppressed”(1970), bahwa karakter pendidikan yang menindas adalah ketika guru mengajar (aktif), sedangkan siswa belajar (pasif). Freire mengistilahkannya dengan “banking concept of education”, siswa diisi (pasif) oleh tumpukan ilmu-pengetahuan dari guru. Guru mengkonversi dirinya menjadi nasabah bank, sedangkan siswa mejadi deposito-deposito hidup yang teralienasi.

Generasi Emas Indonesia: Guru Kuncinya        

Guru mesti mentransformasi dirinya menjadi kreator, inovator, motivator sekaligus kolaborator bersama para peserta didik. Jadikan peserta didik sebagai teman bukan lawan. Guru mesti menjadi inspirasi agar para peserta didik tak kering kreasi dan inovasi. Kita harus mengubah mindset atau cara pandang klasik bahwa guru mengetahui segalanya sedangkan para peserta didik bejana kosong yang menimba ilmu dari guru. Padahal istilah “pembelajaran” secara semantik memberikan pemahaman pada kita bahwa guru dan peserta didik bisa saja sama-sama dalam proses belajar.

Jadikan peserta didik kita sebagai kawan yang sama-sama berproses menuju kebaikan. Jangan lagi kita tampil menjadi sosok “mengerikan” dengan tumpukan aturan dan larangan. Pendidikan yang membebaskan, inilah pesan moralnya. Membebaskan peserta didik dari rasa rendah diri, takut dan apriori. Pendidikan yang membebaskan guru beserta peserta didik dari psikologi keluh-kesah. Membebaskan diri dari kungkungan dan jeratan rutinitas administratif semata. Inilah realita pendidikan era modern sekarang ini.

Proses pembelajaran tak lagi menilai peserta didik secara hitam putih, reward dan punishment. Proses yang memanusiakan manusia, inilah harapan besarnya. Artinya guru tak lagi memiliki otoritas absolut dan tunggal sebagai penentu keilmuan dan kebenaran. Suasana psikologis peserta didik di kelas atau di sekolah tercipta secara humanis dalam bingkai moral dan etika. Disain kurikulum (kebijakan-pemerintah) harus menapakkan kakinya di kelas-kelas sekolah dari Sabang sampai Merauke. Terpenting dan vital adalah ketika para gurunya mentransformasi mindset dan dirinya menjadi manusia-manusia progresif, bijak dan unggul, yang mengabdikan dirinya pada proses panjang dan penuh makna yang bernama pendidikan. Inilah faktor kunci agar harapan kita ke depan, yakni terbentuknya generasi emas Indonesia pasti akan tercapai. Bergegaslah menjadi guru yang ditunggu dan dirindu wahai kawan…!

About satriwan

Saya seorang mahasiswa lulusan jurusan ilmu sosial politik fakultas ilmu sosial unj. Keinginan saya untuk berkuliah di kampus negeri merupakan cita-cita dari kecil. Namun, ragu rasanya hati ini untuk bisa berkuliah, sebab orang tua tidaklah mampu seperti keluarga lain. Saya mencoba meranatu mengikuti jejak orang tua (bapak) untuk bersekolah smp dan SMA di Bogor. Dengan prestasi yang lumayan saya bisa mendaptkan beasiswa ketika di SMA. Sehingga ditawarkan untuk mengikuti program PMDK dari salah satu PTN di Jakarta oleh guru SMA tersebut. Syukur pada Allah, akhirnya saya diterima sebagai mahasiswa di Universitas Negeri Jakarta melalui jalur PMDK. Pengalaman Organisasi 1. Ketua Rohis SMAN 1 Ciawi, Bogor (Periode 2003-2004) 2. Staf Bazis LDK UNJ (Periode 2005-2006) 3. Staf Dep. Kaderisasi Islamic Center Al-Ijtima'i, FIS UNJ (Periode 2006-2007) 4. Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Sosial Politik, FIS UNJ (Periode 2006-2007) 5. Ketua Bidang Pemberdayaan Anggota, HMI Koorkom UNJ (Periode 2006-2007 dan Periode 2007-2008) 6. Ketua Umum Keluarga Mahasiswa Minang (KMM) Koorkom UNJ (Periode 2008-2009) 7. Sekretaris Jenderal Himpunan Nasional Mahasiswa PKN (HIMNAS PKN) (Periode 2008-2009) 8. Aktif di Pusat Kajian dan Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (PKPIS), UNJ

2 responses »

  1. Salam buat Mas Satriwan.
    Semangat benar rupanya dalam mengekspresikan ide dan imajinasinya.

    Namun, sepertinya mas Satriwan masih harus banyak “turun” ke sekolah-sekolah swasta, kecil, dan penuh sesak dengan peserta didik yang “unik”.
    Saya menyarankan untuk melakukan penelitian di sekolah-sekolah seperti saya sebutkan itu.
    Tujuannya untuk memperoleh gambaran lebih cocok, bagaimana seharusnya jadi guru dan bagaimana mestinya pemerintah memperlakukan guru di sekolah tersebut.

    Mas Satriwan sangat idealis.
    Namun saya yakin ketika nanti Anda turun dan menelusuri ratusan sekolah dengan kategori seperti saya maksud tadi, gagasan dan imajinasi Anda akan berubah arah.

    Saya tunggu hasil penelitian Anda yang spektakler.
    Silahkan kontak saya di :katam42@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s