Mulailah Menjadi Ibu, Wahai Ayah!

Standar

Judul ini terinspirasi dari realita sosial di tengah-tengah kita. Emansipasi diterjemahkan secara radikal, bahwa perempuan mempunyai jalan hidupnya sendiri. Bahwa kaum pria tak lagi menjadi kelompok superior, yang terjamin secara sosio-kultural bahkan teologis. Betul sekali bahwa “yang maskulin” adalah kelompok atas, dan mendominasi dalam konstruksi budaya kita. Bahkan dilegitimasi oleh dogma teologi yang ditafsirkan secara serampangan. Peradaban yang dibangun oleh kaum maskulin, maka kelelakian adalah watak dasar kehidupan sebenarnya. Penuh amarah, perang, kasar, artifisial, kaku dan penuh kekuatan.

Maka untuk melawan tradisi dan dogmatisme konservatif ini, muncul kemudian kelompok perempuan, mengidentifikasikan dirinya dengan kelompok feminis. Bahwa konstruksi budaya kita yang dihegemoni oleh kaum pria, harus segera didekonstruksi dengan hal-hal terkait keperempuanan atau “yang feminin”. Dominasi sosio-kultural bahkan teologis tersebut mesti dilawan. Reinterpretasi terhadap teks-teks suci agama pun dilakukan secara fundamental. Pendekatan heurmenetika menjadi solusi penafsiran teks-teks suci tersebut. Bahwa pendekatan tafsiran agama yang “maskulin sentris” mesti didekonstruksi. Tuhan tak lagi hadir dalam realita kehidupan (melalui teks) secara maskulin. Tapi kehadirannya akan diterjemahkan dengan pendekatan keperempuanan.

Apakah analisis ontologis feminisme di atas yang menjadi urat tunggang persoalan pembagian tugas/wewenang antara ayah-ibu dalam rumah tangga? Bagi keluarga modern di kota-kota besar saat ini, wilayah domestik keperempuanan adalah objek khusus kajian gender. Kesadaran filosofis berbalut keilmuan sudah kadung dipelajari oleh perempuan modern. Ibu-ibu kelompok urban sudah tak canggung dengan terminologi gender, feminis atau emansipasi. Kesadaran kolektif tersebut lebih karena terbukanya akses informasi. Baik formal melalui jenjang pendidikan, maupun melalui media yang makin permisif menyampaikannya. Satu hal yang penting adalah kesadaran primordial perempuan urban tersebut, tak berlanjut kepada vonis mati bagi aktivitas sang ayah di rumah tangga. Ayah-ibu sama-sama bekerja mencari nafkah.

Ayahku Menyapu Rumah

Namun di samping itu, ada beberapa fenomena keluarga yang peran tradisioanl ibu digantikan oleh ayah. Peran klasik ibu yang bersifat domestik yakni di sumur, dapur dan kasur setidaknya tetap menjadi paradigma baku masyarakat kita. Sedangkan ayah adalah figur kepala rumah tangga yang memikul setumpuk beban sebagai pemimpin. Minimal mencari nafkah dan punya otoritas terhadap anak-isterinya. Maka peran-peran tradisional seorang ibu tentu “haram” jika dilakukan oleh ayah. Walaupun keadaannya darurat. Seperti ibu sakit keras, yang berakibat tak bisa memasak, menggendong adik, memandikan adik, mencuci baju ayah, menanak nasi (karena tak ada pembantu) bahkan melayani kebutuhan (seks) ayah.

Acap kali kita melihat di masyarakat, sebuah keluarga terdiri dari ayah, ibu, dengan beberapa orang anak (misalnya 3 anak). Walaupun Minangkabau adalah etnis yang bangunan kebudayaannya matriakat dan matrilineal (perempuan yang berkuasa), tetapi peran ayah tak pernah didomestifikasi dan direduksi sekedar di rumah saja. Justru akan menjadi “malu” keluarga, jika seorang ayah tak bekerja dan hanya menumpang makan di rumah isterinya (karena Minangkabau menganut sistem perkawinan matrilokal). Malu besar bagi keluarganya jika ayah tak bekerja dan menggantikan peran ibu di rumah tangga. Adalah malu besar jika ayah memegang tangkai sapu di tengah rumahnya, walaupun dia juga mencari nafkah.

Konstruksi kebudayaan masyarakat lokal kita memang sangat variatif. Seperti fakta di daerah tertentu, kaum ibunyalah yang (banyak) bekerja, sedangkan kaum bapak duduk-duduk saja di warung makan atau asyik di beradu ayam. Bukanlah sentimen primordial ini yang menjadi substansi cerita kita saat ini.  Tapi lebih kepada potret terhadap realita masyarakat yang menjadi objek kajian analisis. Ketika ayah berganti peran dengan ibu di rumah, apakah ini merupakan pertanda jaman yang terbolak-balik? Ciri-ciri kiamat kata sebagian kalangan agamawan. Sungguh memalukan jika ibu bekerja mencari uang mati-matian, tapi ayah terkantuk-kantuk di saat menyayikan lagu “nina bobo” sambil menggendong adik di atas tangannya yang berbulu. Inilah penghakiman sosial-kultural yang pasti akan ditimpa oleh para bapak rumah tangga tadi. Tak ada lagi alasan untuk membantahnya, kecuali perasaan malu keluarga.

Mulailah menjadi Ibu, Wahai Ayah!         

Masyarakat hanya bisa menghakimi dan menyimpulkan secara parsial. Tak tahu sebenarnya apa yang sedang terjadi dalam keluarga tersebut. Ternyata istilah ibuku berganti ayah, bisa disebabkan faktor yang tak bisa diubah, yakni kematian ibu. Seorang suami/ayah yang berprinsip tak akan menikah laki setelah isterinya/ibu wafat, tentu akan menggantikan peran ibu dalam rumah tangganya, apalagi mereka memiliki anak yang masih kecil-kecil. Tak mungkin menitipkan kepada pantia asuhan, hal ini tak bertanggungjawab namanya. Tak bisa pula menitipkan ke rumah nenek/kakek/bibi karena keluarga besarpun susah atau tak punya keluarga besar lagi.

Nyanyian lagu tidur dan dekapan sayang ayah sambil menggendong adik, bukanlah karena ayah yang malas atau berwatak keperempuanan. Tetapi lebih kepada misi mulia terhadap tugas-tugas mulia sebagai orang tua. Akan lain ceritanya jika bunyi piring pecah ketika ayah mencuci piring, gagang sapu yang salah pegang ketika ayah menyapu rumah, atau tangan kasar yang sedang menceboki adik dilakukan ketika ibu sedang “tunggang-tunggik” mencari uang. Ayah malas mencari uang, tapi bersemangat mengasuh adik. Sedangkan ibu pergi pagi pulang petang mencari nasi buat ayah dan adik. Inilah tanda-tanda jaman terbolak-balik sesungguhnya.

Yang maskulin dan yang feminin tak hanya masalah gender dan peranan sosial-biologis. Tapi kelelelakian dan keperempuanan itu adalah masalah kesadaran akan tanggungjawab ketika diucapkannya janji setia di depan Tuhan. Serahkanlah jiwa ragamu ayah untuk ibu dan anak-anakmu. Begitu pula bagimu ibu, berikanlah segenap jiwa-ragamu bagi ayah dan anak-anakmu. Kita mesti berbenah, bukanlah ibu yang baik ketika hendak berbagi wewenang secara hitam putih dengan ayah. Bukan pula ayah yang baik, jika dengan otoritasnya mendomestikasi tugas dan peran ibu dengan berlindung di bawah dogma taatlah pada suami jika ingin taat kepada Tuhan.

Semoga ayah dan ibu kita sama-sama menyanyikan lagu nina bobo dikala adik ingin tidur. Ketika ayah dengan punggungnya yang kuat menggendong adik, sedangkan ibu mencuci piring-piring kotor di dapur. Sungguh indah melihat ibu memasak nasi, sedangkan ayah mengayun-ayunkan tangkai sapu ijuk di tengah rumah kita yang kecil ini. Ayah dan ibu adalah peran sosial sekaligus bersifat transendental. Maka mulailah menjadi ibu, wahai ayah!

About satriwan

Saya seorang mahasiswa lulusan jurusan ilmu sosial politik fakultas ilmu sosial unj. Keinginan saya untuk berkuliah di kampus negeri merupakan cita-cita dari kecil. Namun, ragu rasanya hati ini untuk bisa berkuliah, sebab orang tua tidaklah mampu seperti keluarga lain. Saya mencoba meranatu mengikuti jejak orang tua (bapak) untuk bersekolah smp dan SMA di Bogor. Dengan prestasi yang lumayan saya bisa mendaptkan beasiswa ketika di SMA. Sehingga ditawarkan untuk mengikuti program PMDK dari salah satu PTN di Jakarta oleh guru SMA tersebut. Syukur pada Allah, akhirnya saya diterima sebagai mahasiswa di Universitas Negeri Jakarta melalui jalur PMDK. Pengalaman Organisasi 1. Ketua Rohis SMAN 1 Ciawi, Bogor (Periode 2003-2004) 2. Staf Bazis LDK UNJ (Periode 2005-2006) 3. Staf Dep. Kaderisasi Islamic Center Al-Ijtima'i, FIS UNJ (Periode 2006-2007) 4. Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Sosial Politik, FIS UNJ (Periode 2006-2007) 5. Ketua Bidang Pemberdayaan Anggota, HMI Koorkom UNJ (Periode 2006-2007 dan Periode 2007-2008) 6. Ketua Umum Keluarga Mahasiswa Minang (KMM) Koorkom UNJ (Periode 2008-2009) 7. Sekretaris Jenderal Himpunan Nasional Mahasiswa PKN (HIMNAS PKN) (Periode 2008-2009) 8. Aktif di Pusat Kajian dan Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (PKPIS), UNJ

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s