Guruku Membakar Buku

Standar

Membaca judul tulisan sederhana ini mungkin mengingatkan kita tentang judul sebuah buku pada 2009, yang sempat dilarang oleh Kejaksaan Agung, yaitu “Lekra Tak Membakar Buku.” Namun tulisan ini bukanlah pledoi yang diajukan, tetapi lebih kepada refleksi-kontemplatif untuk dunia pendidikan kita, khususnya bagi para pendidik. Tak bosan saya mengingatkan memori kita para pedagog, bahwa aktivitas mendidik substansinya adalah membimbing atau mengantarkan anak (paedos dan agogos). Membimbing dan mengantarkan anak agar menjadi berotak dan berwatak. Hanya pada kalimat pendek ini tujuan pendidikan dikonstruksikan dengan segala instrumen formal-strukturalnya oleh negara.

Pendidikan secara konseptual terbagi menjadi beberapa aktivitas yaitu teaching (mengajar), educating (mendidik) dan training (melatih). Secara normatif ketiga aktivitas di atas bermuara kepada capaian-capaian akhir yang telah dijelaskan secrara cerdas oleh Bloom yang dikenal kemudian sebagai Taksonomi Bloom. Capaian tersebut yaitu kognitif (pengetahuan, pemahaman), afektif (perasaan, penilaian) dan psikomotorik (gerak, tingkah laku). Pada titik ini dianggap sempurnalah suatu proses pembelajaran (bukan belajar-mengajar, yang selama ini secara konvensional masih kita biasakan untuk menyebutkannya).

Proses pembelajaran yang terjadi baik di kelas, sekolah maupun di lingkungan sekitar diharapkan mampu mencipta karakter peserta didik (dan para pendidik tentunya), yang siap menghadapi ruang-ruang zaman yang senantiasa bergerak. Berbagai artikulasi kehidupan ditampilkan dalam pernak-pernik wajah manusia, karakter lingkungan, bahasa, birokrasi formal, negara-penguasa, budaya dan media. Perjalanan waktu yang tak akan bisa dibendung oleh kekuatan sekokoh apapun, mutlak akan mewarnai realita ruang-ruang kehidupan tadi. Dalam suatu ”goa kehidupan” yang sangat ramai, kompleksitas dan beragam bentuk, peserta didik harus bertahan dalam bahasa zaman yang berubah tadi. Teringat yang dikatakan Charles Darwin bahwa, yang mampu bertahan (survive) dan menyesuaikan diri dengan lingkungan akan keluar sebagai pemenang dan bertahan terus-menerus.

Memang tak pas jika dalam konteks ini kita membedahnya dalam perspektif normatif-teologis. Namun yang dikatakan Darwin setidaknya menjadi kabar gembira bagi kita, khususnya para pendidik bahwa orientasi profetis kita mendidik yakni, agar peserta didik mampu bertahan (resilience) dan beradaptasi dengan segala perubahan, namun tetap berpegang pada otak dan watak (karakter) sebagai manusia. Kadang saya terpikir sejenak (terlepas dari perdebatan teologisnya), jika reinkarnasi sesungguhnya taklah menghilangkan spirit (ruh-jiwa) suatu kontruksi ciptahan Tuhan, melainkan sekedar perpindahan secara fisik-ragawi belaka. Begitu pula dalam suatu ”kebertahanan” (bukan survive atau defense tetapi resilience). Bukanlah suatu aktivitas pasif dan fisik tetapi konstruksi personal dan sosial yang aktif dan berubah, namun tak menghilangkan ”kemanusiaannya”.

Bentuk ”kemanusiaan” saya maksudkan di sini adalah bahwa manusia tercipta dengan seperangkat alat, baik yang material maupun yang immaterial sifatnya. Kita tak bisa lagi menafikan bahwa ruh (spirit) itu tidak ada. Atau kemudian nalar ktiris kita menunjukkan bahwa ”yang nyata” adalah yang berwujud, empirik, dapat dirasa dan dimengerti saja, sebagaimana ceramah Aristoteles. Saya juga tak akan mengajak kita berdebat dengan filsafat materialismenya Karl Marx yang sangat populer itu. Bisa juga di sisi lain kita berucap bahwa ”yang nyata” atau terdeteksi oleh panca indera ini adalah kamuflase belaka alias palsu. Karena hakikatnya eksistensi adalah berada dalam dunia ide-ide, seperti yang didakwahkan oleh Plato. Konstruksi ”yang nyata” itu sekarang sudah mengalami perubahan sebagaimana yang dijelaskan secara menarik oleh Yasraf A. Piliang sebagai post-realitas.

Tantangan para pendidik saat ini adalah bahwa ”yang nyata” dan ”yang tak nyata” itu telah tersamar dan bercampur-aduk keberadaannya. Fenomena sosial seperti kehadiran media sosial dengan segala penampilannya sampai kepada yang mikro, seperti twitter dan facebook. Penggunaan fasilitas media ini oleh masyarakat, khususnya bagi kalangan pelajar menjadi massif. Begitu juga halnya dengan para pendidik yang berpartisipasi sebagai netizen. Dengan mudahnya komponen teknologi handphone dapat mensugesti kita (pendidik dan peserta didik), untuk memanfaatkannya dalam pembelajaran. Apakah untuk memfoto materi pelajaran (karena mencatat adalah pekerjaan sia-sia dan menghabiskan waktu) atau mengirimkan pesan jawaban ujian kepada teman dengan Black Berry Messanger. Modus operandi ”aktivitas mencontek” pun kian hi-tech dengan segala pilihan teknologi instannya. Maka tak heran jika sambil duduk dalam rapat formal, ada anggota dewan (DPR) yang melihat video porno. Inilah tantangan post-realitasnya yang makin kompleks bagi para pendidik.

Pendidikan secara profetis mempunyai misi transenden yang menghubungkannya dengan dimensi Ilahiah. Posisi sebagai pembimbing dan guru (secara klasik dianggap akronim dari ”yang digugu” dan ”yang ditiru”). Maka tak heran jika sakralisasi acapkali diletakkan pada guru. Walaupun sakralisasi seperti ini terlalu berlebihan pengistilahannya. Kita bisa menyebut menghormati atau menghargai. Penghormatan itu tidak berhenti pada ”personal” tetapi lebih kepada misi profetis yang sedang diembannya. Namun pertanyaan kecil yang bisa kita diskusikan kemudian adalah ketika pendidik (guru) ”menstop” atau memberhentikan aktivitas anak didik. Pemberhentian aktivitas tersebut bahkan berlanjut kepada ”penilangan” intelektual. Kapankah pemberhentian dan ”penilangan” intelektual ini dilakukan oleh para guru? Yaitu di saat para anak didik sedang menikmati perngembaraan intelektualitasnya dengan segala imajinasi dan kreasinya yang menumpuk.

Peristiwa ini bisa terjadi ketika anak didik memberikan berbagai pertanyaan-pernyataan dan aktivitas yang (mungkin) bagi guru melampaui norma, standar, kebiasaan dan tradisi. Sebut saja (berdasarkan pengalaman pribadi) ada seorang siswa kelas X SMA yang bertanya apa definisi tuhan (Tuhan), atau bertanya apakah ”yang liberal” itu selalu salah, bahkan bertanya (filosofis) apakah hakikat kebenaran itu? Pernah juga seorang teman (yang juga guru) menceritakan daya nalar dan kritis anaknya yang masih duduk di kels 4 SD. Pertanyaan terkait kenapa setan selalu dimusuhi? Kenapa manusia selalu takut masuk neraka? Beberapa pertanyaan ini adalah contoh lompatan intelektual anak didik kita, yang berasal dari kemampuan mereka berpikir divergen. Nalar kritis tersebut merupakan hasil perkawinan antara potensi intelektual dan pembacaan terhadap media bahkan realita sesuai usia mereka. Media telah menawarkan dan mempertontonkan pilihan-pilihan bacaan yang kadang dianggap tak sesuai usia atau ”bukan makanannya”.

Sekarang keputusan terletak pada para guru, apakah langsung melarang mereka berpikir seperti itu, memarahinya atau tergagap-gagap bahkan tak bisa menjawab setumpuk pertanyaan filosofis-teologis tersebut? Inilah tantangan para pendidik era post-modern yang bijak untuk menuntaskannya. Jika saja misi profetis mereka masih diletakkan dipundak, bukan terkonversi menjadi aktivitas ritual birokratis dan rutinitas belaka. Atau direduksi secara sadar menjadi pemenuhan standar sertifikasi (karena terkait tunjangan dan lainnya), sehingga lupa akan misi humanis-profetis tadi, tentulah yang akan tercipta adalah para generasi mekanis, generasi robot yang bekerja sesuai instruksi, bukan berdasar kreasi dan imajinasi. Begitu juga bagi para pendidik yang mesti mampu mengembara baik secara akademik (pendidikan) maupun sosial-intelektual. Bukan waktunya lagi kita menstop dan ”menilang” daya kreasi dan imajinasi, yang sebenarnya adalah kemampuan intelektualitas. Tentu dengan bimbingan (guiding) dan kebijaksanaan (wisdom) yang tak menghilangkan kemanusiaan mereka. Jika hal itu terjadi, sangat pantas jika anak didik kita di kemudian hari berkata, ”Guruku telah membakar buku”. Suatu harapan yang sekarang sedang terjadi.

 

About satriwan

Saya seorang mahasiswa lulusan jurusan ilmu sosial politik fakultas ilmu sosial unj. Keinginan saya untuk berkuliah di kampus negeri merupakan cita-cita dari kecil. Namun, ragu rasanya hati ini untuk bisa berkuliah, sebab orang tua tidaklah mampu seperti keluarga lain. Saya mencoba meranatu mengikuti jejak orang tua (bapak) untuk bersekolah smp dan SMA di Bogor. Dengan prestasi yang lumayan saya bisa mendaptkan beasiswa ketika di SMA. Sehingga ditawarkan untuk mengikuti program PMDK dari salah satu PTN di Jakarta oleh guru SMA tersebut. Syukur pada Allah, akhirnya saya diterima sebagai mahasiswa di Universitas Negeri Jakarta melalui jalur PMDK. Pengalaman Organisasi 1. Ketua Rohis SMAN 1 Ciawi, Bogor (Periode 2003-2004) 2. Staf Bazis LDK UNJ (Periode 2005-2006) 3. Staf Dep. Kaderisasi Islamic Center Al-Ijtima'i, FIS UNJ (Periode 2006-2007) 4. Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Sosial Politik, FIS UNJ (Periode 2006-2007) 5. Ketua Bidang Pemberdayaan Anggota, HMI Koorkom UNJ (Periode 2006-2007 dan Periode 2007-2008) 6. Ketua Umum Keluarga Mahasiswa Minang (KMM) Koorkom UNJ (Periode 2008-2009) 7. Sekretaris Jenderal Himpunan Nasional Mahasiswa PKN (HIMNAS PKN) (Periode 2008-2009) 8. Aktif di Pusat Kajian dan Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (PKPIS), UNJ

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s