Panggil Saja Siswaku Robot!

Standar

Ujian Nasional (UN) mulai dilaksanakan 16 April 2012 (SMA-sederjat). Seluruh siswa mulai SD-SMA (sederajat), perasaannya mulai dag-dig-dug. Lulus apa tidak ya? Inilah pertanyaan menjengkelkan sekaligus menentukan bagi masa depan mereka. Ya, saya mengatakan pertanyaan tersebut menjengkelkan! Apa sebab? UN telah membonsai hak-hak fundamental para siswa di republik ini untuk. Berkreasi dan berinovasi. Tak usah lagi bicara jauh-jauh tentang kreativitas, inovasi bahkan “menjadi yang berbeda”. Semua angan-angan akademis sekaligus motivasi itu, habis sudah diamputasi oleh yang namanya UN. Mungkin terminologi yang saya pakai terkesan seram. Betul karena hanya inilah istilah yang “pas” bagi pelaksanaan UN, seram sekaligus suram.

Publik sudah bosan khususnya stakeholders pendidikan untuk mengunyah-ngunyah yang namanya UN. Diskusi UN selalu berakhir sekedar asa yang berujung unjuk rasa. Tapi herannya dia selalu ada di tengah-tengah kita. Masuk ke ruang-ruang tembok dan kayu kelas-kelas di sekolah. Terus bergelayut di dalam tas-tas sobek anak kita, yang berat isi tas tersebut acap kali melebihi berat badan mereka. Ya, itulah seramnya UN. Untuk menggambarkannya, cukup meminjam istilah seorang politikus nasional, “ngeri-ngeri sedap kita dibuatnya”. Kelas-kelas Bimbingan Belajar atau Bimbel makai ramai bak hari pasar di dusun-dusun. Tempatnya mudah ditemui, bisa meminjam ruang sekolah, di ruko-ruko bahkan panggilan ke rumah (private).

Tak jauh bedanya dengan yang terjadi di sekolah. Guru, tata usaha dan pimpinan sekolah fokus ke UN. Pikiran dan tenaga kita dicurahkan hanya untuk pesta tahunan ini. UN tak ubahnya pesta tahunan yang menjadi ritual wajib sekolah, siswa, guru dan Kementerian Pendididikan & Kebudayaan. Sekolah-sekolah memberikan layanan prima bahkan khusus, agar siswa mereka lulus 100%. Lulus 100% ini adalah surga terindah yang diidam-idamkan sekolah, terus ke pengawas sekolah, kepala dinas kota/kabupaten sampai pada provinsi bahkan sampai menteri. Nama baik sekolah dipertaruhkan. Ramai-ramailah mendorong para siswa ini untuk mengenali kertas-kertas soal. Soal UN pun ada karakternya dan tingkahnya. Seperti juga benda hidup (manusia atau hewan).

Kertas-kertas soal ini bernafas, hidup, mendengar, melihat dan bergerak. Nafasnya adalah mata pelajaran yang di-UN-kan. Hidupnya adalah di dalam tas-tas para guru sekolah, bimbel atau private. Telinganya mendengar bisikan dari pengawas dan kepala dinas, dengan perintah bahwa sekolah kita harus lulus 100%. Matanya melihat tumpukan-tumpukan soal yang dijual di toko-toko buku. Dibeli, diperebutkan lalu dibolak-balik. Kertas bagus itu kemudian bermetamorfosis menjadi kumpulan coretan pena atau pensil. Sudah kusam, sobek, penuh lingkaran dan angka-angka yang asing bagi seorang petani kecil di desa. Gerakannya adalah aliran darah siswa, guru, kepala sekolah bahkan para orang tua, yang khawatir jikalau siswa/anaknya tak lulus UN. Malu besar keluarga jika kau tak lulus sekolah duhai ananda!

Pasar UN sebentar lagi wahai para guru! Siap-sedia hendaknya mengulang-ulang narasi kita dulu di depan kelas. Hampir 3 (6) tahun sudah terlewati. Bongkar semua tumpukan kertas yang ada di meja kita yang makin kusam. Panggil lagi ruh-ruh yang bersemayam dalam barisan kata-kata yang mati suri di tiap lembaran kertas itu. Lalu haramkan para siswa kita dari penyakit amnesia kolektif. Mereka mesti menjadi pengingat-pengingat yang ulung. Buang jauh-jauh yang namanya lupa, tidak ingat atau tidak tahu. Para guru mesti melihat dan mendengar dengan seksama, kata perkata yang keluar dari bibir para siswa kita yang makin kering itu, karena terlupa untuk meminum segelas air putih demi mengingat pelajaran 2 (5) tahun yang lalu.

Para pembuat regulasi mengimani bahwa semua narasi amuk di atas adalah provokasi murahan berbalut intelektualisme kering. UN merupakan proses mendidik dan bentuk perjuangan hidup bagi generasi bangsa. Itulah ceramahnya, yang tiap tahun kita dengarkan melalui bibir-bibir kepala dinas dan pengawas. Jika ingin sukses sekolah dan masa depannya, ya para siswa haruslah berjuang. Hiks…hiks, saya terharu mendengarnya. Sebuah syair yang patriotik dan heroik. Tapi anda semua mesti ingat, yang guru itu kami! Sekali lagi yang guru itu kami, bukan anda! Jadi hanya kamilah yang tahu, paham dan mengerti bagaimana kemampuan para siswa kami selama 3 (6) tahun ini! Janganlah atas nama regulasi, bapak/ibu mereduksi bahkan memutilasi tugas, sekaligus hak & kewajiban kami para guru.

Cukuplah kesuraman atas nama regulasi dan perjuangan ini sampai di sini bapak menteri! Kita semua. Sekali lagi, kita semua sudah sukses mencetak robot-robot baru dalam diri para generasi bangsa ini. Mereka menjadi mesin-mesin foto copy yang menyimpan ribuan memori, lalu memuntahkannya di saat ditekan tombol enter! Inilah yang dikhawatirkan oleh Paulo Freire (1970) dalam kitabnya “Pedagogy of The Oppressed”. Para guru berhasil menabung dan menjadi nasabah dengan tumpukan buku deposito yang bernama ingatan siswa (the banking concept of education). Inilah instrumen nyata penindasan dalam dunia pendidikan kita sekarang. Para siswa adalah manusia hidup, bukan benda mati atau robot, yang memiliki pilihan-pilihan untuk hidupnya kelak. Semoga kita lekas sembuh dan sadar dari amnesia kolektif itu. Dan kesadaran tersebut dimulai dari para guru!

About satriwan

Saya seorang mahasiswa lulusan jurusan ilmu sosial politik fakultas ilmu sosial unj. Keinginan saya untuk berkuliah di kampus negeri merupakan cita-cita dari kecil. Namun, ragu rasanya hati ini untuk bisa berkuliah, sebab orang tua tidaklah mampu seperti keluarga lain. Saya mencoba meranatu mengikuti jejak orang tua (bapak) untuk bersekolah smp dan SMA di Bogor. Dengan prestasi yang lumayan saya bisa mendaptkan beasiswa ketika di SMA. Sehingga ditawarkan untuk mengikuti program PMDK dari salah satu PTN di Jakarta oleh guru SMA tersebut. Syukur pada Allah, akhirnya saya diterima sebagai mahasiswa di Universitas Negeri Jakarta melalui jalur PMDK. Pengalaman Organisasi 1. Ketua Rohis SMAN 1 Ciawi, Bogor (Periode 2003-2004) 2. Staf Bazis LDK UNJ (Periode 2005-2006) 3. Staf Dep. Kaderisasi Islamic Center Al-Ijtima'i, FIS UNJ (Periode 2006-2007) 4. Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Sosial Politik, FIS UNJ (Periode 2006-2007) 5. Ketua Bidang Pemberdayaan Anggota, HMI Koorkom UNJ (Periode 2006-2007 dan Periode 2007-2008) 6. Ketua Umum Keluarga Mahasiswa Minang (KMM) Koorkom UNJ (Periode 2008-2009) 7. Sekretaris Jenderal Himpunan Nasional Mahasiswa PKN (HIMNAS PKN) (Periode 2008-2009) 8. Aktif di Pusat Kajian dan Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (PKPIS), UNJ

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s