Tuhan: Psikologi Surga dan Neraka

Standar

Secara normatif-teologis setiap umat beragama menjalankan perintah Tuhan dengan orientasi eskatologis berupa balasan surga. Surga menjadi obsesi eskatologis sekaligus motivasi religiusitas seorang manusia dalam rangka menghamba. Banyak firman Tuhan yang disampaikan baik melalui kitab suci maupun melalui perantara para nabi dan rasul, yang memberikan dorongan spiritual agar manusia kelak memperoleh balasan yakni surga. Surga diidentikan oleh kaum beragama sebagai tempat pembalasan bagi hamba yang melakukan kebaikan dan perintah Sang Omni Potent. Dalam kisah-kisah rasul atau di kitab suci pun dinarasikan mengenai kehidupan dari entitas surga. Deskripsi surga yang indah, penuh kedamaian, penuh cinta, nihil kedengkian dan nafsu membuat surga menjadi impian terakhir bagi umat beragama. Walaupun sejarah tentang surga pada dimensi prakehidupan kosmologis ini masih teringat, yakni ketika Adam dan Hawa (sengaja) terusir dari tempat penuh berkah tersebut. Surga telah mengawali sejarah umat manusia yang pada akhirnyapun kembali menjadi dambaan final. Surga ternyata mampu menjadi magnet obsesif bagi umat beragama. Surga jugalah yang berhasil mengkonstruksi sejarah peradaban manusia.

Para hamba Tuhan yang baik, berorientasi eskatologis dan penuh dengan kebajikan secara tekstual kita sebut orang-orang saleh (shaleh/sholeh). Orang-orang saleh ini menjadi titik fokus setiap narasi perjalanan para nabi dan rasul. Karena para nabi dan rasulpun merupakan orang-orang saleh. Mereka menerangkan kepada para hamba agar bertuhanlah secara benar. Laksanakan tiap perintah Tuhan niscaya para hamba akan mendapat imbalan surga. Jika para hamba menolak dan menutup hatinya (kafir) dari cahaya Tuhan, maka sungguh balasan bagi mereka adalah neraka. Dari sini kemudian neraka menjadi entitas menakutkan, suatu dimensi negasi terhadap segala kedamaian (surga). Konstruksi pengetahuan manusia tentang neraka telah begitu kokohnya. Neraka dipersepsikan secara teologis sebagai tempat terkutuk dan penuh hujatan pembalasan. Surga dan neraka kemudian tercipta menjadi entitas kontradiktif. Ibarat para Dewa dan Raksasa, Musa dan Firaun, Malaikat dan Iblis, Rama dan Rahwana. Suatu konstruksi yang kontras. Dalam perjalanannya surga dan neraka mampu mempengaruhi bahkan memproduksi bangunan peradaban manusia.

Lantas bagaimana dengan para hamba yang mengklaim atau diasosiasikan sebagai yang “tak bertuhan atau tak beragama”? Tentu surga dan neraka baginya (mungkin) sekedar mitos teologis atau strategi para nabi dan rasul untuk menakuti para hamba agar mengikuti ajakan mereka. Ini bisa terjadi sebab “yang tak bertuhan” tersebut percaya bahwa pascakehidupan imanen ini, tak ada lagi dimensi eskatologis berupa surga atau neraka. Kita boleh saja berdebat panjang tentang Tuhan, bahkan Tuhan yang saya maksudkan mungkin saja berbeda dengan Tuhan dalam persepsi yang lain. Karen Armstrong telah mengulas “Sejarah Tuhan” secara gamblang dalam bukunya yang fenomenal itu. Bagi yang mengklaim sebagai “yang tak bertuhan” agaknya saya ingin menanyakan bagaimana definisi Tuhan tersebut dalam paradigma mereka. Perdebatan tentang Sang Omni Present ini sejatinya belum berakhir. Tapi kembali pada surga dan neraka, tetap mempengaruhi aktivitas kemanusiaan kita sampai detik ini. Walaupun Stephen Hawking sanggup menghipnotis (setidaknya para ilmuwan) tentang tesisnya bahwa “tak ada campur tangan Tuhan dalam penciptaan alam samesta” dalam The Grand Design, yang menjadi buku laris termasuk di Indonesia. Tetapi apakah konsekuensi dari tesis itu lantas menghilangkan konsep (entitas) surga dan neraka bagi Sang Fisikawan yang atheis? Bisa ya dan tidak jawabannya. Setidaknya dia masih percaya konsepsi surga dan neraka dalam jagad kosmos ini. Berupa kondisi kebaikan dan keburukan, atau Malaikat dan Iblis, atau kejujuran dan korupsi, atau perdamaian dan perang.

Para hamba beragama memang tampaknya terlanjur masuk ke dalam relung-relung keimanan dogmatis dan tekstual, bahwa kehidupan ini berakhir secara dramatikal berupa balasan surga atau neraka. Surga dan neraka akhirnya menjadi tujuan akhir (final destination) para hamba. Bahkan konstruksi keimanan mereka telah lama terbentuk dengan segala aktivitas sekuler di kehidupann ini. Sehingga psikologi teologis yang tertanam yaitu takut kepada neraka dan obsesif akan surga. Neraka dikonversi menjadi “tuhan-tuhan baru” karena takut dengan berbagai kompleksitas dramatikal para kaum kafir (menutup hatinya dari Tuhan), disiksa di dalam api yang panas yang bernama neraka. Sebaliknya bagi yang patuh dan saleh dalam hidupnya, terobsesi ingin mendapatkan balasan berupa surga, sebuah tempat yang damai, tenang, setiap keinginan pasti terpenuhi dan penuh kasih sayang. Akibatnya adalah para hamba saleh ini berlomba-lomba berbuat kebajikan duniawi dengan tak lupa mengkalkulasi amal kebajikan. Pahala dan dosa didistorsi menjadi sekedar kalkulasi ekonomi. Pahala merupakan hasil kalkulasi dari perhitungan, penambahan (nilai plus) atau pembagian atas kebajikan di dunia. Sedangkan dosa merupakan hasil dari pengurangan (pembagian karena pahalanya dibagi kepada orang-orang yang disakiti), nilai minus. Inilah fakta keagamaan yang perlu direfleksikan bersama mengenai psikologi beragama kita.

Memang tak bijak jika kita menyalahkan para pendidik atau para nabi dan rasul atas dakwah yang membentuk pola pikir umat beragama. Tapi jika fenomena psikologi ibadah umat beragama tetap seperti ini, sungguh kita telah jatuh kepada Kapitalisme Teologis. Para nabi dan rasul secara eksplisit telah mengingatkan pada umat manusia, bahwa yang pantas untuk disembah hanya Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan yang universal dan tidak dimonopoli oleh sekelompok orang atau keyakinan. Setiap aktivitas kehidupan ini sejatinya hanya ditujukan bagi-Nya. Tak ada motivasi lain yang muncul dalam hati sanubari kita, melainkan mencari ridho-Nya. Ridho Tuhan merupakan final destination umat manusia karena inilah nikmat terbesar yang pernah tercipta dalam kehidupan ini. Persepsi kita tentang pahala dan dosa mesti didekonstruksi. Persepsi kita tentang surga dan neraka yang didamba dan ditakuti mesti direinterpretasi. Lakukan kebajikan dan sebarkan kedamaian kepada jagad raya, inilah keselamatan universal yang sesungguhnya. Seraya kita tunduk dan pasrah kepada Sang Pencipta surga dan neraka. Kemudian berkata “Aku tak tak sanggup di neraka-Mu, tapi akupun tak pantas di surga-Mu, maka ampunilah segala dosaku”.

About satriwan

Saya seorang mahasiswa lulusan jurusan ilmu sosial politik fakultas ilmu sosial unj. Keinginan saya untuk berkuliah di kampus negeri merupakan cita-cita dari kecil. Namun, ragu rasanya hati ini untuk bisa berkuliah, sebab orang tua tidaklah mampu seperti keluarga lain. Saya mencoba meranatu mengikuti jejak orang tua (bapak) untuk bersekolah smp dan SMA di Bogor. Dengan prestasi yang lumayan saya bisa mendaptkan beasiswa ketika di SMA. Sehingga ditawarkan untuk mengikuti program PMDK dari salah satu PTN di Jakarta oleh guru SMA tersebut. Syukur pada Allah, akhirnya saya diterima sebagai mahasiswa di Universitas Negeri Jakarta melalui jalur PMDK. Pengalaman Organisasi 1. Ketua Rohis SMAN 1 Ciawi, Bogor (Periode 2003-2004) 2. Staf Bazis LDK UNJ (Periode 2005-2006) 3. Staf Dep. Kaderisasi Islamic Center Al-Ijtima'i, FIS UNJ (Periode 2006-2007) 4. Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Sosial Politik, FIS UNJ (Periode 2006-2007) 5. Ketua Bidang Pemberdayaan Anggota, HMI Koorkom UNJ (Periode 2006-2007 dan Periode 2007-2008) 6. Ketua Umum Keluarga Mahasiswa Minang (KMM) Koorkom UNJ (Periode 2008-2009) 7. Sekretaris Jenderal Himpunan Nasional Mahasiswa PKN (HIMNAS PKN) (Periode 2008-2009) 8. Aktif di Pusat Kajian dan Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (PKPIS), UNJ

One response »

  1. blog yang anda miliki bagus!!!
    dan saya hanya blog walking
    jika berniat liat blog saya kunjungin balik ya??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s