Prabowo: Antara Ramalan Jayabaya dan Realita Politik

Standar

Nama Prabowo Subianto tak asing lagi di tengah masyarakat kita. Sempat mencuat secara politik nasional ketika dia berduet dengan Megawati Soekarno Putri, sebagai pasangan calon presiden dan wakil presiden. Pilihan politik Prabowo pada Pemilu 2009 lalu untuk memilih menjadi Cawapres Megawati adalah pilihan rasional, diingat kalau perolehan suara Gerindra (partainya Prabowo) di parlemen memang rendah, menempati urutan ke 8 (dari 9 partai di parlemen). Apalagi secara ideologis antara PDI-P dan Gerindra memiliki kemiripan. Secara simbolispun pencitraan politik yang dilakukan Prabowo lebih mengidentifikasikan diri layaknya Soekarno. Bahkan chemistry ideologis antara kedua partai tersebut lebih kuat karena Prabowo (sempat) dianggap sebagai Soekarno muda. Perawakan yang tegap, menggunakan peci hitam lengkap dengan baju yang mirip dengan Soekarno. Setidaknya bagi para pengagum Soekarno seperti Permadi (politisi PDI-P yang pindah ke Gerindra).

Berbicara mengenai kepemimpinan apalagi nasional tak semudah mencari seorang ketua kelas atau ketua RT. Secara teoritis kita tahu bahwa seorang pemimpin itu ada karena dua hal. Pertama, secara natural mereka memiliki bakat leadership, terlahir dengan potensi sebagai seorang pemimpin. Semenjak kecil atau remaja telah tampak goresan-goresan kepemimpinan dalam dirinya. Inilah yang dapat kita lihat dalam fase kehidupan Soekarno. Model historis Soekarno agaknya tak lagi kita jumpai sampai sekarang. Tapi betul juga bahwa semua itu tergantung momentum. Momentumlah yang sesungguhnya determinatif terhadap sebuah narasi sejarah. Kedua, seorang pemimpin terlahir karena dibentuk oleh keadaan. Seseorang yang terlahir, mungkin secara instan karena memperoleh peluang untuk menjadi presiden misalnya. Sebutlah mendiang Gus Dur yang diproduksi oleh beragam kepentingan politik pada masanya. Menjadi presiden karena berbagai kompromi politik yang mengangkatnya, kemudian diturunkan oleh kelompok yang sama. Biasanya usia kepemimpinan yang dibentuk seperti ini memang taklah panjang.

Kembali pada realita politik Indonesia pada waktu sekarang. Sosok SBY setidaknya masih mendominasi secara figural dan objektif dalam cerita tentang kepemimpinan nasional. Alternatif figur nasional yang mampu menyaingi SBY tampaknya belum muncul. Nama-nama seperti Megawati, Wiranto, Jusuf Kalla atau Amien Rais bisa diklasifikasikan sebagai politisi tua atau The Older Politicion. Muncul sosok The Middle yang sekarang gencar mengkampanyekan dirinya di tengah masyarakat. Sebagai pelanjut senior-senior mereka tadi, bahkan namanya pernah diusulkan menjadi capres/cawapres dalam Pemilu yang lalu setidaknya, seperti Prabowo, Aburizal Bakrie, Surya Paloh, Sri Sultan HB X bahkan Hatta Rajasa dan Soetrisno Bachir (saat ini sedang menghilang dari kancah politik). Lalu melompat ke generasi muda yakni kelompok younger leader, walaupun secara usia masih muda namun telah menampati posisi struktural partai, birokrasi pemerintahan dan organisasi politik lainnya. Nama-nama seperti Anas Urbaningrum, Adhyaksa Dault, Muhaimin Iskandar bahkan Fadli Zon. Begitu juga nama-nama di kalangan nonpartai seperti Anis Baswedan. Semua nama di atas setidaknya menjadi fokus dan alternatif sosok/figur politik yang akan mengisi kepemimpinan nasional kelak.

Ketika menuliskan nama-nama di atas, saya lantas teringat ucapan-ucapan filosofis futuristik dari seorang Raja Kediri yang bernama Joyoboyo (Jayabaya). Seorang raja yang dikenal karena torehan-torehan mistik filosofisnya yang bernada futurologis layaknya Alvin Toffler, Francis Fukuyama dan Samuel P. Huntington. Kita telah mengenal Jangka Jayabaya sebagai hasil karya beliau yang kemudian dilanjutkan dan dipatenkan oleh Ronggowarsito. Selain memprediksi kepemimpinan nusantara, Jayabaya telah berhasil membuat postulat-postulat mengenai sejarah nusantara yang diungkapkan dengan bahasa-bahasa simbolik. Mulai dari kolonialisme Belanda dan Jepang, fase revolusi kemerdekaan, kejatuhan Soekarno, Soeharto sampai kepada reformasi. Bagi sebagian kita yang tak cocok dengan mitologi atau mistisisme apalagi mistisisme politik, tentu Jayabaya akan dikubur begitu saja dengan segala karyanya. Politisi abangan, inilah biasanya yang menjadi labeling bagi pecinta politik dan mistik. Tapi tak ada salahnya jika kita mengelaborasi secara reflektif apa yang oleh leluhur nusantara dikatakan.

Salah satu yang menarik dalam ungkapan Jayabaya adalah bahwa nusantara ini akan dipimpin oleh Notonogoro. Notonogoro bukanlah sebuah nama personal yang lekat pada seseorang. Lebih kepada simbolisasi penamaan bagi kepemimpinan nasional. Terminologi Notonogoro sempat ramai sekali diperbincangkan pascareformasi ’98. Sampai-sampai banyak buku termasuk buku politik yang membedah dan memakai Notonogoro dalam teori kepemimpinan nasional. Banyak interpretasi politik dan budaya atas istilah Notonogoro ini. Tapi salah satu interpretasi yang lebih banyak muncul adalah yang mengatakan jika Notonogoro adalah nama-nama pemimpin nasional (presiden) yang akan memimpin nusantara ini. Kata Notonogoro dipisahkan menjadi No-To-No-Go-Ro. “No“, yang pertama diawali oleh Soekarno. “To“, yang kedua adalah Soeharto. “No“, yang ketiga adalah Tresno yang merupakan bahasa Jawa. Jika dimasukkan dalam konteks bahasa Indonesia berarti “cinta”. Cinta dalam gramatikal bahasa Arab yaitu Hubbun. Setelah digunakan dalam kalimat-kalimat dialog, kata Hubbun bisa dimodifikasi menjadi kata Habibie (bermakna kekasihku). Ini merupakan masa pemerintahan Presiden Habibie.

Kemudian “Go“, yang keempat adalah Abdurrahman Wahid. Presiden Indonesia keempat ini lebih akrab dipanggil Gus Dur, panggilan kehormatan kepada anak seorang Kyai dalam konteks budaya Jawa Timur yakni Gus. Dalam ejaan lama bahasa Indonesia “u” ditulis dengan huruf “oe”. Jadi jika digabung menjadi Goes Dur. “Ro“, yang kelima berarti Megawati Soekarno Putri. Putri berarti anak, maka biasanya disebut “Putro” dalam bahasa Jawa (walau terkesan dipaksakan). Lima presiden inilah yang memimpin nusantara dalam prediksi futurologis Jayabaya. Lantas bagaimana dengan SBY dan pemimpin berikutnya? Ternyata interpretasi ini tak berhenti pada “Ro“, tetapi dilanjutkan kembali pada kata “No” di awal kata. “No” inilah yang kemudian ditafsirkan sebagai Susilo Bambang Yudhoyono. Presiden keenam Indonesia yang dua kali memerintah (sampai sekarang). Lalu jika demikian penafsirannya, siapakah pelanjut kepemimpinan nasional? Masih ada “To” yang akan memimpin nusantara. Jika berpedoman pada futurolog Jayabaya ini, maka bisa saja kita menafsirkan setiap nama-nama yang berakhiran seperti di atas.

Seperti yang ditulis di atas, ini merupakan interpretasi mistik-politik terhadap prediksi filosofis dari seorang Jayabaya. Menarik untuk ditelaah walaupun bagi sebagian kita mungkin tertawa kecil, sinis dan langsung berkata “takhayul” dengan analisis ini. Interpretasi mitologis, mistik politik dan penafsiran yang dipaksakan. Boleh saja seperti itu, karena namanya juga penafsiran yang berdimensi relativitas tentunya. Kadang dirasa penafsiran yang primordialistik, minim kenusantaraan karena akhiran penggalan kata di atas umumnya berasal dari bahasa Jawa. Terasa ada legitimasinya akan perdebatan klasik politik nasional kita, mengenai orang nonjawa tak akan menjadi presiden. Polemik presiden Jawa-Nonjawa yang secara sosial-antropologis dan politik tak ada kebenarannya. Tapi dikotomi primordial politik kepemimpinan nasional itu masih (tetap) ada setiap Pemilu.

Untuk menjawab pertanyaan, yakni siapakah “To” yang akan memimpin negara ke depan, yang akan terpilih dalam Pemilu 2014 nanti? Kita bisa menyebut Wiranto misalnya, sebab akhiran di namanya adalah “to”. Tapi menurut saya usia Wiranto sudah cukup sepuh, apalagi perjalanan politiknya yang sudah dua kali maju dalam kontes Pemilu pada 2004 dan 2009. Mungkin jualan figur Wiranto tak (akan) laku lagi di pasaran suara rakyat. Atau akan terjawab oleh nama Djoko Suyanto, seorang loyalis dan menteri SBY yang juga elit Partai Demokrat. Masih menjadi misteri memang sampai sekarang siapakah figur alternatif yang akan dicalonkan oleh Demokrat pada Pemilu 2014 nanti. Apakah Anas Urbaningrum, Djoko Suyanto atau bahkan Ani Susilo Bambang Yudhoyono. Jika memang Bu Ani dan terpilih, maka “No” masih menjadi fase kepemimpinan nasional. Lantas siapa lagi?

Untuk menjawabnya, “To” berikutnya saya mengatakan adalah Prabowo Subianto. Sekali lagi ini adalah prediksi politik. Jadi tentu tak sesederhana ini untuk memetakan realita politik nasional, apalagi masih tiga tahun lagi. Masih prematur jika kita memperdebatkan siapa calon presiden berikutnya, apalagi wacana itu dimunculkan oleh elit partai politik berkuasa. Prabowo Subianto memang tampak sebagai figur alternatif untuk saat ini sampai Pemilu nanti. Visi ideologis Prabowo lekat dengan dimensi kerakyatan. Visi tentang kemandirian nasional, ekonomi kerakyatan, ditambah pencitraan, sedikit meniru Soekarno menjadi modal utama. Apalagi jika dalam waktu tiga tahun ke depan Prabowo dan partai pengusungnya mampu mengambil hati rakyat, dengan tak melulu berpihak pada pragmatisme politik sesaat. Ditambah dengan banyaknya partai nonparlemen yang menggabungkan diri dengan Gerindra, tentu menjadi energi tambahan. Saya pikir Prabowo dan Gerindra telah belajar pada Pemilu sebelumnya.

Maka pilihan rasional antara ramalan Jayabaya dan realita politik sesungguhnya bergantung pada suara rakyat kelak (vox populi vox dei). Mesti belajar dari sejarah karena sejarah sebenarnya merupakan konstruksi cerita dari dunia politik dan orang-orang besar. Sejarah adalah kisah tentang penguasa dan orang-orang besar. Jika Prabowo cerdas belajar pada Sang Guru Kehidupan (historia magistra vitae), maka tak ayal ramalan Jayabaya pada kali ini benar (lagi) adanya dan memihak pada Prabowo. Sebuah dukungan mistik politik yang tak bisa diabaikan begitu saja. Kita sama-sama lihat dan buktikan kebenarannya kelak.

About satriwan

Saya seorang mahasiswa lulusan jurusan ilmu sosial politik fakultas ilmu sosial unj. Keinginan saya untuk berkuliah di kampus negeri merupakan cita-cita dari kecil. Namun, ragu rasanya hati ini untuk bisa berkuliah, sebab orang tua tidaklah mampu seperti keluarga lain. Saya mencoba meranatu mengikuti jejak orang tua (bapak) untuk bersekolah smp dan SMA di Bogor. Dengan prestasi yang lumayan saya bisa mendaptkan beasiswa ketika di SMA. Sehingga ditawarkan untuk mengikuti program PMDK dari salah satu PTN di Jakarta oleh guru SMA tersebut. Syukur pada Allah, akhirnya saya diterima sebagai mahasiswa di Universitas Negeri Jakarta melalui jalur PMDK. Pengalaman Organisasi 1. Ketua Rohis SMAN 1 Ciawi, Bogor (Periode 2003-2004) 2. Staf Bazis LDK UNJ (Periode 2005-2006) 3. Staf Dep. Kaderisasi Islamic Center Al-Ijtima'i, FIS UNJ (Periode 2006-2007) 4. Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Sosial Politik, FIS UNJ (Periode 2006-2007) 5. Ketua Bidang Pemberdayaan Anggota, HMI Koorkom UNJ (Periode 2006-2007 dan Periode 2007-2008) 6. Ketua Umum Keluarga Mahasiswa Minang (KMM) Koorkom UNJ (Periode 2008-2009) 7. Sekretaris Jenderal Himpunan Nasional Mahasiswa PKN (HIMNAS PKN) (Periode 2008-2009) 8. Aktif di Pusat Kajian dan Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (PKPIS), UNJ

10 responses »

  1. jendral Prabowo Subianto adalah figur Presiden RI ,yang mampu membawa Perubahan kehidupan Rakyat miskin menjadi rakyat makmur sebagaimana cita cita para Proklamator Kemerdekaan R.I. Hidup Prabowo, Hidup Petani, Prabowo orang kaya yang mengetahui dan merasakan bagaimana pahitnya jadi orang miskin di negeri yang kaya raya

  2. Bagaimana jika dibandingkan dengan Khalifah al Mahdi / 666 yang mampu bekerjasama dengan para malaikat dan Allah SWT dalam menegakkan keadilan Allah SWT yang prestasinya telah nyata terbuktikan antara lain mampu memusnahkan negeri Singapura yang merupakan kacung utama Yahudi Bani Israel bangsa terkutuk, penipu & penjahat alias bangsa bajingan itu? Singapura adalah negara congkak di Asia Tenggara yang dijadikan base camp kacung-kacung Yahudi Bani Israel untuk mengobok-obok NKRI. Di tangan Khalifah al Mahdi / 666 daratan utama Singapura beserta sekitar 4 juta penduduknya itu tenggelam musnah menjadi lautan hanya dalam waktu 2 jam saja. Anda rakyat NKRI bisa membuat perbandingan siapa yang tepat memimpin Nusantara untuk menghadapi negeri-negeri asing dan kacung-kacungnya di Indonesia yang kerjanya menyengsarakan rakyat NKRI.

  3. Ha ha ha pakai harga mati segala. Kalau kemusyrikan demokrasi akan dimusnahkan dengan mematikan orang-orang yang terlibat di dalamnya oleh para malaikat anggota Pasukan Kerajaan Langit dan Bumi itu memang benar harga mati he he he…. Akan terjadi tidak lama lagi ketika keadilan yang kuasa telah tiba yaitu keadilan Allah SWT, keadilan berdasarkan Al Qur’an dan Sunah Rasul Nabi Muhammad SAW. Ketika manusia di tanah Jawa dan Nusantara tidak bisa menegakkan keadilan Allah SWT tersebut, maka Allah SWt Tuhan semesta alam ini akan menegakkan dengan caranya sendiri dan itu juga harga mati sesuai dengan sunatullah he he he…

  4. Prabowo s presiden dari semua ramalan dari leluhur yg dipercaya menunjukkan nama dan serta ciri fisik beliau yg akan memimpin bangsa ini berjaya kembali

  5. Ping-balik: Siapakah yang pantas menjadi Presiden Republik Indonesia 2014 ? | presidenindo2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s