Republik Gayusnesia

Standar

Tahun 2010 adalah titik awal negeri ini berbenah dalam hal pemberantasan korupsi, mafia hukum, mafia kasus dan mafia pajak. 2010 ditandai dengan banyaknya kasus atau perkara hukum, baik pada tataran nasional maupun lokal terkait dengan korupsi para pejabat dan elit negara/lokal. Kasus korupsi dengan berbagai variasinya itu kemudian tertutupi oleh Kasus Bank Century, pelemahan KPK oleh Anggodo dan terakhir Kasus Gayus. Untuk yang pertama ternyata berakhir anti klimaks, ketika DPR memilih opsi C yang menandakan kasus tersebut memang wajib diselesaikan secara hukum (memunculkan sederetan nama-nama sekelas Boediono, Sri Mulyani dan lainnya). Tapi setelah itu, semuanya mati suri sebab faktor kesengajaan untuk membuatnya mati suri. Namanya juga mati suri, sifatnya hanya sementara karena suatu saat jika momennya tepat dan dibutuhkan bisa di-hidup-kan kembali. Buktinya sekarang pasca pembatalan Pasal 184 UU MD3 oleh MK, suara-suara gagah itu muncul lagi. Suara yang terdengar yaitu pemakzulan terhadap Boediono yang jadi wakil presiden, mulai semarak lagi. Di samping kasus Century yang mati suri (tapi rohnya coba dipanggil kembali), kasus ketiga yakni Gayus tetap berselancar di pemberitaan-pemberitaan masional (lokal). Tak ada kata lelah untuk tidak memberitakan Gayus. Memang kasus yang sangat melelahkan di tengah harga kebutuhan pokok makin melambung dan para Pertapa Suci (tokoh agama), turun dari kahyangan bahkan mengeluarkan fatwa bahwa republik ini dipimpin oleh para pembohong. Itu kalimat kasarnya yang keluar. Jika dibuat halus yaitu pemerintah tidak menjalankan janji-janjinya di saat kampanye. Bahasa hadistnya yaitu tak sesuai perkataan dengan perbuatan atau munafik.

Sebagai negara besar yang dikenal secara resmi Indonesia, nama ini menjadi sungguh berat jika keluar dari mulut para politisi, elit, anggota parlemen, pemerintah dan birokrat. Karena Indonesia suatu atribut historis yang transenden dan sakral. Mulut para politisi, elit dan pemerintah sangat gampang mengucapkan Indonesia atau frase “rakyat Indonesia”, apalagi di saat kampanye. Rakyat Indonesia yang dimaksud sejatinya adalah semua warga negara Indonesia, termasuk Anggodo, Sri Mulyani, Gayus Tambunan, Ariel, Boediono, Prita, Nenek Minah, Antasari Azhar, Ayin dan Cyrus Sinaga. Mereka juga bagian dari sebutan yang bernama rakyat Indonesia. Tapi kebetulan yang saya tulis di atas itu adalah nama-nama orang yang berseliweran di media-media cetak dan elektronik. Kebetulan lagi mereka semua pernah terkait kasus hukum sesuai profesinya masing-masing atau minimal disebut-sebut walaupun sedang berjalan proses hukumnya, bahkan baru disebut tapi belum diproses secara hukum. Di samping itu banyak nama yang kita tidak kenal, bahkan KTP juga tidak punya, atau rumahpun tidak punya, atau pekerjaanpun tidak punya tapi mereka masih punya negara yang bernama Indonesia. Mungkin hanya status sebagai warga negara Indonesia saja yang menjadi harta kekayaannya. Dalam statistik atau dunia ekonomi dan politik, kita mengenalnya dengan “masyarakat miskin”. Kelompok yang namanya sering dicatut, diperjualbelikan bahkan dijadikan alat kompromi politik di negara Indonesia. Makanya untuk kuantitatif angka orang miskin saja kita berdebat. Pada 2010 jumlah mereka versi BPS 31 juta, versi Bank Dunia hampir 76 juta dan beragam versi lain.

Kalau di buku-buku atau tulisan-tulisan kritis kita sering membaca, “orang miskin dilarang sekolah”, tapi sebenarnya ada hal penting dari itu. Penting dan menjadi keharusan adalah, “orang miskin harus ada di negara Indonesia”. Karena UUD 1945 juga telah mengamanahkan bahwa orang miskin (dengan segala variasi bentuk kemiskinan dan sebutannya) adalah wajib dipelihara. Wajib dipelihara berarti eksistensi mereka itu ada secara ril. Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara (Pasal 34 ayat 1 UUD 1945). Jadi yang namanya dipelihara maknanya bisa jadi memang “dibutuhkan untuk diperbanyak”. Kalau tak diperbanyak minimal mereka harus ada secara kuantitatif. Makanya pemerintah telah suskses menjalankan amanah konstitusi pasal tersebut, buktinya fakir miskin sangat berkembang di negara Indonesia. Jika perdebatan statistik dan angka-angka muncul tentang jumlah orang miskin, bahkan pemerintah mengklaim angka kemiskinan berkurang pada 2010 yakni hanya 31 juta penduduk miskin di negara Indonesia. Angka yang dicatat Kompas, menurut Badan Pusat Statistik per September 2010 tercatat 13,3 persen atau 31,02 juta jiwa. Jika mengacu World Bank angka kemiskinan negara Indonesia sekitar 76,4 juta jiwa. Manakah yang valid? Perdebatan ini seharusnya tidak muncul karena berapapun angka kemiskinan rakyat Indonesia, toh mereka yang namanya sering disebut itu juga tetaplah miskin, tak bisa makan dan bergizi buruk. Bekerja jujur dan dengarkan aspirasi rakyat, inilah poin utamanya bagi negara (pemerintah). Jika pemerintah mengklaim angka kemiskinan berkurang, bisa jadi berkurang karena rakyat yang miskin tersebut keburu meninggal karena tiap hari makan nasi tiwul bahkan tidak bisa makan. Makanya jumlah mereka berkurang. Inikah yang namanya prestasi mengurangi angka kemisikinan?

Kembali ke Gayus yang atribut orang miskin pasti tidak menempel di dirinya. Gayus bukanlah orang miskin tetapi Gayus adalah orang paling berpengaruh di negara Indonesia ini. Gayus mencatat banyak rekor yakni:

  1. Sebagai narapidana yang paling bebas, karena bebas menyuap petugas dan bebas berkeliaran ke mana-mana (termasuk luar negeri).
  2. Gayus mencatat rekor mengalahkan Edy Tansil, karena Edy Tansil kabur dari penjara hanya sekali tetapi Gayus berkali-kali. Gayus mencatat rekor narapidana yang paling jujur, karena Gayus pergi/keluar dari penjara walaupun berkali-kali tetapi Gayus tetap balik lagi ke penjara, tidak seperti Edy Tansil yang pasca keluar/kabur dari penjara, dia tidak kembali/balik lagi ke penjara.
  3. Gayus juga berhasil mengalahkan para artis karena pemberitaannya tiap hari di berbagai media.
  4. Fokus Satgas Pemberantasan Mafia Hukum juga hanya kepada Gayus, sehingga mafia-mafia lain dilupakan. Gayus mencatat rekor sebagai penghipnotis ulung, mengalahkan Romy Rafael karena sukses mensugesti Satgas, pemerintah, media massa, DPR bahkan masyarakat. Termasuk masyarakat miskin yang walaupun belum bisa makan, mereka kenal dan membicarakan Gayus sambil berpikir mencari makan hari ini. Itulah segudang prestasi Gayus yang layak mendapatkan rekor MURI bahkan masuk Guinness Book of World Records. Selamat untuk Gayus dan segala atribut kesuksesannya!

Oleh karena itu bisakah realita sosial ini kita sebut Gayusnesia? Atau lebih lengkapnya Republik Gayusnesia? Kitalah yang menentukan dan kitalah yang merasakannya. Termasuk bagi yang miskin yang namanya sering dicatut. Mau Gayusnesia atau Anggodonesia sebutannya, tetap saja yang miskin tetap diperdebatkan dan yang miskin tetap lapar karena belum makan, itulah Indonesia kita.

About satriwan

Saya seorang mahasiswa lulusan jurusan ilmu sosial politik fakultas ilmu sosial unj. Keinginan saya untuk berkuliah di kampus negeri merupakan cita-cita dari kecil. Namun, ragu rasanya hati ini untuk bisa berkuliah, sebab orang tua tidaklah mampu seperti keluarga lain. Saya mencoba meranatu mengikuti jejak orang tua (bapak) untuk bersekolah smp dan SMA di Bogor. Dengan prestasi yang lumayan saya bisa mendaptkan beasiswa ketika di SMA. Sehingga ditawarkan untuk mengikuti program PMDK dari salah satu PTN di Jakarta oleh guru SMA tersebut. Syukur pada Allah, akhirnya saya diterima sebagai mahasiswa di Universitas Negeri Jakarta melalui jalur PMDK. Pengalaman Organisasi 1. Ketua Rohis SMAN 1 Ciawi, Bogor (Periode 2003-2004) 2. Staf Bazis LDK UNJ (Periode 2005-2006) 3. Staf Dep. Kaderisasi Islamic Center Al-Ijtima'i, FIS UNJ (Periode 2006-2007) 4. Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Sosial Politik, FIS UNJ (Periode 2006-2007) 5. Ketua Bidang Pemberdayaan Anggota, HMI Koorkom UNJ (Periode 2006-2007 dan Periode 2007-2008) 6. Ketua Umum Keluarga Mahasiswa Minang (KMM) Koorkom UNJ (Periode 2008-2009) 7. Sekretaris Jenderal Himpunan Nasional Mahasiswa PKN (HIMNAS PKN) (Periode 2008-2009) 8. Aktif di Pusat Kajian dan Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (PKPIS), UNJ

One response »

  1. Masalahnya apakah selamanya Indonesia akan terkungkung dalam seperti ini… Ada berapa banyak gayus yang siap diorbitkan Indonesia????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s