Sekolah: Logosentrisme Peradaban Oleh Satriwan[1]

Standar

Sekolah menjadi sebuah tempat yang sepanjang manusia memiliki kebudayaan, pasti sekolah tetap diinginkan karena sentral kebudayaan manusia itu sendiri. Sekolah menjadi sentral terbangunnya tradisi kemanusiaan yang nanti bermetamorfosa menjadi serangkaian norma yang hidup di masyarakat. Sebagai lembaga formal pendidikan, sekolah memiliki peran strategis untuk mempersiapkan masa depan generasi suatu bangsa. Peran strategis sekolah tersebut yakni, pertama, sebagai kawah candradimuka bagi pembentukan karakter dan kepribadian siswa (selain di keluarga). Filosofi kawah candradimuka maksudnya adalah tempat ditempanya para siswa secara kepribadian, sosial, emosi dan tentunya intelektual untuk kemudian dipersiapkan bagi lingkungan sosial mereka ke depan nanti. Tempaan secara struktural yaitu adanya pembagian fungsi antara guru/pendidik yang menjadi orang tua kedua di sekolah. Fungsi siswa yang secara konseptual menjadi subjek pendidikan itu sendiri. Kemudian tempaan secara kultural, inilah yang sesungguhnya menjadi poin utama di sekolah.

Secara kultural yang dimaksud adalah siswa hidup dalam alam sekolah, yang memberlakukan asas kesamaan, keadilan dan solidaritas. Tidak terlihat latar belakang primordial antara siswa, ketika mereka harus menggunakan bahasa Indonesia, berseragam yang sama dan duduk secara sejajar. Terbentuklah pola berpikir bahwa, saya adalah sama dengan yang lain. Tidak ada terminilogi “kami” dan “mereka” secara primordial, tetapi yang terbangun adalah kata “kita”. Secara kultural juga membimbing siswa untuk memiliki karakter yang ideal, sebab ketika telah beranjak dari sekolah tentunya area sosial pergaulan semakin luas dan penuh dengan realita bad character. Tempaan secara emosional juga penting, ketika siswa misalnya harus behadapan dengan tes yang pada akhirnya (pasti) punya risiko, hasil memuaskan atau belum memuaskan. Kenapa tidak menggunakan frase “tidak memuaskan”? Karena sekolah memberikan peluang yang besar untuk kembali mencoba agar hasil tes memuaskan. Juga tempaan intelektual, karena berhadapan dengan kondisi-kondisi yang mengharuskan mereka berpikir, penuh rasionalitas, objektif dan ilmiah. Dimensi kognitif juga mutlak diperoleh dari sekolah, di samping dimensi afektif dan psikomotorik, sesuai Taksonomi Bloom.

Kedua, sekolah berperan sebagai rumah kedua bagi siswa. Filosofi dari sekolah adalah rumah keduaku, yakni menempatkan sekolah seperti keluarga sendiri. Secara psikologis orang tua (genetik) digantikan peranannya oleh para guru dan saudara (genetik) juga tergantikan oleh peran teman-teman sekelas dan di sekolah secara keseluruhan. Pembagian peran sosial bagi setiap pribadi warga sekolah, secara sendiri terbentuk dan disadari untuk dilakukan. Sekolah sebagai arena yang luas dan bebas bagi perkembangan kecerdasan sosial siswa. Maka idealnya adalah sekolah harus menampilkan dan memberikan suasana yang menyenangkan bagi setiap warganya. Kita bisa menyebutnya sebagai school citizen yakni warga sekolah sebagai sebuah komunitas yang mempunyai budayanya sendiri dengan pola-pola interaksi sosial tersendiri.

Conny R. Semiawan mengenalkan konsep an invitational learning and teaching sebagai suatu gagasan filosofis bagi pendidikan (sekolah). Pembelajaran yang mengundang adalah kata kunci jika sekolah menjadi rumah kedua para warganya. Tentu pijakan filosofis ini mesti diterjemahkan secara operasional oleh warga sekolah lain yang disebut guru/pendidik/pedagog. Guru sebagai seorang pedagog mesti mengerti dan memahami ilmu dan strategi mendidik atau disebut juga pedagogi. Secara etimologis kata pedagogi berasal dari bahasa Yunani yakni, Paedos yang berarti adalah anak laki-laki dan Agogos yang maknanya mengantar atau membimbing. Jadi kewajiban seorang pendidik adalah mengantar dan membimbing siswanya agar menjadi manusia seutuhnya, manusia yang berbudaya. Menjadi manusia yang berbudaya inilah ultimate goal dari aktivitas pedagogis tersebut. Memang sebuah tugas yang berat dijalani oleh para pendidik di sekolah.

Pembelajaran yang mengundang tersebut wajib diterjemahkann secara operasional oleh guru dengan strategi pembelajaran di kelas (sekolah). Strategi pembelajaran seperti apa yang ditampilkan di tengah proses pembelajaran, sehingga suasana pembelajaran menjadi hidup, dinamis dan berkembang. Analisis konteks menjadi sesuatu yang mesti dipahami secara mendasar, sebab konteks dalam hal ini yaitu lingkungan belajar (tidak hanya kelas), psikologi siswa, lingkungan sekolah dan segala dinamikanya. Pembelajaran yang mengundang diterjemahkan agar pembelajaran tersebut mengundang siswa untuk tertarik, mengundang siswa menganalisis, mengundang siswa aktif, mengundang siswa bertanggung jawab termasuk mengundang gurunya menjadi lebih kreatif. William Arthur pernah mengemukakan bahwa guru yang biasa hanya berbicara, guru yang bagus menerangkan, guru yang hebat mendemonstrasikan dan guru yang agung menginspirasi. Jadi menjadi pedagog sejati haruslah menginspirasi peserta didiknya.

Peran strategis sekolah ketiga, yaitu sebagai episentrum kebudayaan. Sekolah memang adalah lembaga pendidikan formal dengan berbagai regulasi dan jeratan birokrasi modernnya. Tapi terlepas dari itu sekolah harus melepaskan dirinya dari kebekuan struktural (structural rigidity). Yaitu suatu keadaan yang nantinya akan menghambat siswa untuk berkreasi, inovasi bahkan mengeksplorasi segala hal. Kata kuncinya adalah kreativitas, karena kebebasan berkreasi adalah modal utama untuk terbangunnya suatu kebudayaan yang nantinya menjadi cikal peradaban. Berikanlah ruang kreativitas bagi siswa agar mengeksplorasi kemampuan atau bakatnya. Pembelajaran seharusnya tidak lagi dibatasi oleh ruang-ruang kelas yang kaku, keras dan terbatas tembok. Dalam teori pendidikan sudah dikenalkan pembelajaran humanistik. Salah seorang tokoh utama teori pembelajaran humanistik ini yaitu Carl Rogers (Buku Freedom to Learn), menjelaskan bahwa sesungguhnya manusia itu mempunyai kemampuan belajar secara alami. Tujuan dari pendidikan humanistik adalah untuk memanusiakan manusia. Jadi siswa secara sadar harus melibatkan dirinya dalam proses pembelajaran. Belajar inisiatif sendiri yang melibatkan pribadi siswa seutuhnya, baik perasaan maupun intelektual, merupakan cara yang dapat memberikan hasil yang mendalam dan kontinu.

Ruang-ruang kreativitas siswa akan mengkonstruksi kebudayaan dengan sendirinya. Sebagai hasil karya, rasa dan cipta manusia, kebudayaan akan terbentuk dengan prasyarat adanya ruang kebebasan. Ketika sekolah memberikan suasana psikologis kepada warganya (siswa) berupa wujud freedom for creativity, maka terciptalah bangunan-bangunan kebudayaan yang nantinya berwujud secara kongkret. Warga sekolah akan melihat ide-ide dan gagasan konseptual yang baru dari siswa (guru), yang terlahir dari suasana menyenangkan dan free. Gagasan yang cemerlang dan progresif tentunya yang diharapkan. Suasana kebekuan birokrasi dan struktural akan berkonversi menjadi sebuah dinamisasi ruang/gagasan/pemikiran. Tujuan pendidikan yang dirumuskan akan tercapai ketika suasana penuh norma, demokratis, berkarakter dan bertanggungjawab menjadi atmosfer sekolah. Produk-produk inovasi siswa dan guru akan terlihat dan dimanfaatkan oleh semuanya.

Oleh karena itu, peran strategis sekolah sebagai episentrum kebudayaan akan terbangun kokoh. Sekolah bermetamorfosa menjadi logosentrisme peradaban. Logosentrisme yaitu meminjam istilah Jacques Derrida sebagai sebuah keterpusatan yang kokoh. Suasana inilah yang pada akhirnya membentuk konstruksi peradaban ideal masyarakat. Di tengah karut-marut realita ekonomi, politik, sosial bangsa Indonesia sekarang. Nilai-nilai peradaban tersebut harus memiliki gerak sentrifugal ke luar pagar, yang didakwahkan oleh para Nabi sosial muda, para Messiah muda yang bernama siswa.


[1] Penulis adalah Guru di SMA Labschool Jakarta dan Mahasiswa Program Pascasarjana UI

About satriwan

Saya seorang mahasiswa lulusan jurusan ilmu sosial politik fakultas ilmu sosial unj. Keinginan saya untuk berkuliah di kampus negeri merupakan cita-cita dari kecil. Namun, ragu rasanya hati ini untuk bisa berkuliah, sebab orang tua tidaklah mampu seperti keluarga lain. Saya mencoba meranatu mengikuti jejak orang tua (bapak) untuk bersekolah smp dan SMA di Bogor. Dengan prestasi yang lumayan saya bisa mendaptkan beasiswa ketika di SMA. Sehingga ditawarkan untuk mengikuti program PMDK dari salah satu PTN di Jakarta oleh guru SMA tersebut. Syukur pada Allah, akhirnya saya diterima sebagai mahasiswa di Universitas Negeri Jakarta melalui jalur PMDK. Pengalaman Organisasi 1. Ketua Rohis SMAN 1 Ciawi, Bogor (Periode 2003-2004) 2. Staf Bazis LDK UNJ (Periode 2005-2006) 3. Staf Dep. Kaderisasi Islamic Center Al-Ijtima'i, FIS UNJ (Periode 2006-2007) 4. Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Sosial Politik, FIS UNJ (Periode 2006-2007) 5. Ketua Bidang Pemberdayaan Anggota, HMI Koorkom UNJ (Periode 2006-2007 dan Periode 2007-2008) 6. Ketua Umum Keluarga Mahasiswa Minang (KMM) Koorkom UNJ (Periode 2008-2009) 7. Sekretaris Jenderal Himpunan Nasional Mahasiswa PKN (HIMNAS PKN) (Periode 2008-2009) 8. Aktif di Pusat Kajian dan Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (PKPIS), UNJ

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s