Pekikan yang Hilang

Standar

Pekikan itu terdengar lagi.

Pekikan lantang yang bercampur dengan hembusan angin penuh debu. Suara kendaraan bermotor yang tak puas dengan mengecilnya jalanan ibukota. Asap pabrik yang menghitamkan lazuardi sana. Dentuman proyek gedung-gedung disulap menjadi tangga langit, tak hentinya bernyanyi dengan suaranya yang sumbang.

Pekikan itu terdengar lagi.

Pekikan lantang yang menjadi penanda tanahku bebas. Bebas dari rakusnya rahwana dengan kesaktiannya yang tak bisa mati walaupun oleh para dewa. Basah peluh para syuhada telah membuat tanah ini subur, gemah-ripah loh jinawi kata legenda. Merahnya darah para ksatria membangunkan ikan-ikan di lautan bahari sana.

Pekikan itu terdengar lagi.

Ketika nusantara yang masih belia ini berhadapan dengan prajurit-prajurit Kurawa yang berwajah Krishna. Suara bising pabrik-pabrik membuat semuanya tuli. Tak mampu mendengar walaupun dentuman meriam. Suara-suara itu bercampur-aduk. Tak bisa lagi memilah, mana suara Kurawa, mana suara Krishna.

Pekikan itu terdengar lagi.

Pekikan para nelayan yang tangkapannya menghilang karena limbah pabrik. Pekikan para Marhaen yang dapurnya tak lagi berasap. Pekikan ibu rumah tangga dengan melambungnya harga-harga. Pekikan seorang guru agar muridnya tak merupa Rahwana. Pekikan itu terdengar lagi ketika bom 3 kilo menghampiri dan menginap di dapur-dapur kita.

Tapi, dalam legenda nusantara ini. Pekikan jelata tak akan di dengar para raja. Suara para raja bahkan mengalahkan bisingnya mesin-mesin perahu nelayan. Mesin-mesin buruh pabrik yang tak lelah menyeka keringatnya yang bau. Termasuk suara para demonstran yang meneriakkan keadilan.

Pekikan raja-raja itu memang sakti manderaguna. Sanggup membolak-balikan uang negara untuk hawa nafsunya. Tenggelamlah jiwa-jiwa dahaga dengan kutukan lumpur panas dari neraka. Pekikan raja-raja itu mampu menenggelamkan suara jelata yang makin hari makin serak. Dan hilang entah ke mana.

Pekikan raja-raja adalah hukum tertinggi dalam legenda nusantara ini. Jangan berbicara nasionalisme dengan para raja. Karena nasionalisme mereka hanya pidato raja-raja di singgasana. Nun jauh di sana.

Pekikan itu sedang ditunggu.
Pekikan lantang suara Tuhan yang akan menghukum mereka.
Hanya tinggal itu harapan kita.

Karya: Satriwan Salim
17 Agustus 2010


About satriwan

Saya seorang mahasiswa lulusan jurusan ilmu sosial politik fakultas ilmu sosial unj. Keinginan saya untuk berkuliah di kampus negeri merupakan cita-cita dari kecil. Namun, ragu rasanya hati ini untuk bisa berkuliah, sebab orang tua tidaklah mampu seperti keluarga lain. Saya mencoba meranatu mengikuti jejak orang tua (bapak) untuk bersekolah smp dan SMA di Bogor. Dengan prestasi yang lumayan saya bisa mendaptkan beasiswa ketika di SMA. Sehingga ditawarkan untuk mengikuti program PMDK dari salah satu PTN di Jakarta oleh guru SMA tersebut. Syukur pada Allah, akhirnya saya diterima sebagai mahasiswa di Universitas Negeri Jakarta melalui jalur PMDK. Pengalaman Organisasi 1. Ketua Rohis SMAN 1 Ciawi, Bogor (Periode 2003-2004) 2. Staf Bazis LDK UNJ (Periode 2005-2006) 3. Staf Dep. Kaderisasi Islamic Center Al-Ijtima'i, FIS UNJ (Periode 2006-2007) 4. Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Sosial Politik, FIS UNJ (Periode 2006-2007) 5. Ketua Bidang Pemberdayaan Anggota, HMI Koorkom UNJ (Periode 2006-2007 dan Periode 2007-2008) 6. Ketua Umum Keluarga Mahasiswa Minang (KMM) Koorkom UNJ (Periode 2008-2009) 7. Sekretaris Jenderal Himpunan Nasional Mahasiswa PKN (HIMNAS PKN) (Periode 2008-2009) 8. Aktif di Pusat Kajian dan Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (PKPIS), UNJ

One response »

  1. Pak ! Puisi ini bagaikan suara hati rakyat Indonesia yang teriris-iris… Andaikan anggota DPR mampu bertindak seperti ini….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s