Yang Humanis: Sebuah Mitos? Oleh Satriwan [1]

Standar

Tema globalisasi menjadi kekuatan, yang secara nyata memasuki lorong-lorong gelap realita sosial umat manusia secara global. Berbagai macam wajah paradoksal kehidupan pun bermunculan, sebagai bentuk cermin ganda masyarakat yang paradoks. Bukanlah sebuah ketidaksengajaan sebagai suatu instrumen yang efektif dan determinan untuk menciptakan pola kehidupan sosial yang saling bertabrakan. Para sosiolog menyebutnya sebagai anomali sosial. Tercipta suatu keadaan atau realita yang ambivalen. Teknologi dalam perkembangannya berkonversi menjadi benda-benda yang membentuk manusia menjadi ahumanis. Bangsa-bangsa modern di dunia saat ini mempunyai parameter yang rigid terhadap yang namanya negara maju. Nilai-nilai keadaban (civilized) direduksi menjadi perlombaan kekuatan nuklir dan kemampuan memproduksi rudal dan kapal perang. Mitos negara modern seolah-olah menjadi suatu faktor penentu untuk menjadi adidaya, setidaknya secara regional. Begitu juga kekuatan militer dengan cara memperbanyak reaktor nuklir, berlomba mengalokasikan belanja militer dan instrumen lainnya. Kemudian tak kalah penting, kekuatan ekonomi suatu negara yang melahirkan dependensi akut multinegara terhadap satu/beberapa negara.

Demokrasi menjadi sebuah mitos akan prinsip universalitas keadilan, equality (kesetaraan) dan kesejahteraan (walfare). Negara-negara di dunia sekarang telah mengadopsi secara rasional sebuah narasi panjang yang bernama demokrasi. Salah satu ukuran dari negara modern adalah demokrasi itu. Eropa dan Amerika menjadi kiblat sistem politik demokrasi, walaupun bagi Aristoteles ini adalah sistem terburuk. Demokrasi dan modernisasi kemudian berresonansi ke berbagai segmentasi kehidupan, bahkan modernisasi terkonversi menjadi mantra ampuh untuk menciptakan masyarakat yang berpengetahuan. Tema-tema modernisasi kemudian gencar diperdengungkan, apalagi bagi negara-negara yang merindukan kesetaraan. Modernisasi melahirkan kekuatan teknologi yang menjadi entitas baru kehidupan yang awalnya sangat sederhana. Namun narasi awal teknologi memang sudah terkena kutukan, sehingga teknologi telah memunculkan paradoks-paradoks kehidupan. Para pekerja, buruh dan petani menjadi teralienasi (meminjam istilah Karl Marx), di saat tenaga-tenaga alami para buruh dan pekerja digantikan oleh yang namanya modernisasi itu. Teknologi kemudian memunculkan peradaban baru, suatu tatanan sosial baru yang mempunyai karakter baru. Keajaiban modernisasi secara sadar membentuk manusia menjadi kumpulan-kumpulan makhuk terpinggirkan. Karena teknologi lebih tidak ramah kepada yang humanis. Manusia pada dasarnya adalah makhluk yang baik dan membutuhkan pengakuan dari yang lain. Pemanusiaan manusia dengan prinsip teguh humanisme diharapkan mampu menjawab kompleksitas paradoksal itu.

Dalam dunia pendidikan dikenalkan pendekatan humanisme atau humanistik dalam pembelajaran. Pendidikan dengan segala implementasinya tetap merupakan komponen vital dan modal sosial yang efektif untuk memanusiakan manusia. Di tengah anomali dan kompleksitas paradoksal realita tadi, pendekatan humanistik menjadi jawaban sekaligus tantangan bagi masyarakat. Pendekatan humanistik berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang manusia. Kesadaran pikiran, kebebasan kemauan, martabat manusia, kemampuan untuk berkembang dan aktualisasi diri. Inilah yang menjadi titik fokus humanisme menurut Carl Rogers dan A. Maslow dalam pendidikan. Kesadaran akan martabat kemanusiaan dan aktualisasi diri adalah komponen utama bagi peradaban yang ramah dan lebih hidup. Bukanlah sebuah harapan manusia di dunia akan realita yang belum bahkan tidak memihak, kepada yang dialienasikan tadi. Para kritikus menyebutnya kaum marjinal. Inilah suatu realita yang merupakan anak kandung dari modernisme itu. Orang-orang yang berada dan tetap di sebuah tempat yang bernama tepi zaman. Pendidikan dengan cita-cita profetis dan transendentalnya, ingin menjadi hero untuk mengangkat manusia yang terpinggirkan tadi untuk kembali ke komunitas kemanusiaannya dengan adil dan terbuka. Membuang jauh-jauh yang namanya kemiskinan, keterasingan, kebodohan dan ketertinggalan. Meski banyak yang memandang pesimis kalimat bernada heroistik di atas. Prinsip-prinsip humanis tetap dan mesti dideklarasikan sebagai pemanusiaan manusia.

Pendidikan mengajak untuk memanusiakan manusia. Pendidikan karakter yang sekarang banyak diperbincangkan, merupakan cerita lama karena semenjak INS Kayu Tanam dan Taman Siswa didirikan, masyarakat sudah dikenalkan dengan pendidikan karakter. Para pendidik Indonesia modern seperti Ki Hadjar Dewantara, Tan Malaka, M. Natsir telah menerapkan semangat pendidikan karakter sebagai pembentuk kepribadian dan identitas bangsa, (Doni Koesoema A, 2007:44). Namun paradoksal atas ikhtiar historis founding fathers itu tetap terjadi. Filosofi pendidikan yang memosisikan manusia sebagai homo educendum, hidup dengan nilai-nilai dipangkas oleh pisau materialistik yang gersang. Terciptalah kegersangan moral sehingga melahirkan para koruptor, pelanggar HAM, kekerasan dan pornografi. Belum terjawab sudah dan memang terus mencari baju yang pas, untuk yang humanis itu. Walau terkesan coba-coba, yang humanis terus dan harus tetap dideklarasikan menjadi tindakan nyata. Menerapkan  pendidikan holistik dan humanis menuju sekolah yang berkarakter, istilah Conny R. Semiawan. Tantangan atas realita penuh paradoks akan menjadi narasi tak berujung, jika pendidikan terdistorsi bahkan dikonversi. Menjadi sekedar perlombaan mendapatkan angka-angka, penilaian yang parsial dan harga yang mahal.

Ketidakramahan zaman yang dilahirkan dari rahim modernime termasuk mitos kekuasaan ekonomi, kemudian membentuk kristal karakakter manusia yang berorientasi materi. Materi dijadikan parameter absolut akan sebuah kesuksesan dan kekuasaan. Mental-mental materialistik menjadi penanda tepi zaman yang paradoks. Orientasi materi ini ternyata secara rasional menyimpan kekuatan super yang bernama mental instan. Alih-alih kompetisi secara terbuka, tetapi tetap berwajah ganda. Sesuatu yang instan itu memang enak, cepat dan efektif didapatkan. Masa bodoh apa itu norma, aturan dan moral karena kunci hidup yaitu materi, tak lupa akan pengesampingan proses yang muaranya melahirkan mental-mental menerabas (meminjam istilah Muchtar Lubis). Kekuasaan diraih dengan instan tanpa memperdulikan instrumen sakral dalam sebuah partai yang bernama rekruitmen politik. Membuang jauh-jauh yang namanya proses rekruitmen yang menghabiskan waktu, tenaga dan biaya. Kekuasaan menjadi magnet politik yang sejatinya telah mengalami reduksi. Terjadi semacam distorsi historis politik suatu bangsa, karena dengan sadar meminggirkan potensi-potensi sumber daya manusia yang unggul. Itu terjadi sekali lagi karena pereduksian terhadap proses yang terkonversi menjadi gubernur instan, walikota instan dan anggota DPR dadakan. Sebuah paradoksal politik yang dilahirkan dari mitos demokrasi. Dimana sekarang yang namanya prinsip keadilan sosial? Masukkan ke dalam bungkusan kemudian buanglah jauh-jauh yang namanya kesejahteraan sosial itu.

Sangat penting bagi sebuah entitas kebangsaan nusantara ini, karena kata-kata sakti kesejahteraan seolah-olah tetap sakti, dengan jaraknya yang sungguh jauh dari manusia yang tetap berada di tepi zaman. Anomali sosial ini hanya bisa disuntik dengan cairan pendidikan yang humanistik, untuk menempatkan yang terasing tadi ke tengah-tengah komunitasnya. Inilah tantangan bagi para pedagog (berasal dari istilah Yunani, paedos dan agogos) yaitu seseorang yang esensinya adalah subjek yang melayani. Orang yang mengantarkan anak menjadi manusia dewasa dan sadar akan potensi dirinya. Dengan tujuan mulia yaitu memanusiakan manusia dengan tak mengurangi sejengkalpun martabat kemanusiaannya. Kemudian memberikan manusia stimulus-stimulus, agar potensi alamiah yang dimilikinya keluar dan akhirnya menjelma kepada aktualisasi diri. Di sinilah letak peran strategis yang humanis itu, untuk menghadapi kompleksitas yang paradoks. Sehingga dependensi materi, orientasi hasil, mental menerabas dengan konsep instan yang menciptakan generasi robot dan kering tak terjadi. Akhirnya pendidikan yang humanis akan membentuk manusia yang tak lagi teralienasi, tak lagi terperosok ke tepi zaman dengan minus kemanusiaannya. Semoga


[1] Penulis adalah Guru di SMA Labschool Jakarta dan Peneliti di PKPIS UNJ.

About satriwan

Saya seorang mahasiswa lulusan jurusan ilmu sosial politik fakultas ilmu sosial unj. Keinginan saya untuk berkuliah di kampus negeri merupakan cita-cita dari kecil. Namun, ragu rasanya hati ini untuk bisa berkuliah, sebab orang tua tidaklah mampu seperti keluarga lain. Saya mencoba meranatu mengikuti jejak orang tua (bapak) untuk bersekolah smp dan SMA di Bogor. Dengan prestasi yang lumayan saya bisa mendaptkan beasiswa ketika di SMA. Sehingga ditawarkan untuk mengikuti program PMDK dari salah satu PTN di Jakarta oleh guru SMA tersebut. Syukur pada Allah, akhirnya saya diterima sebagai mahasiswa di Universitas Negeri Jakarta melalui jalur PMDK. Pengalaman Organisasi 1. Ketua Rohis SMAN 1 Ciawi, Bogor (Periode 2003-2004) 2. Staf Bazis LDK UNJ (Periode 2005-2006) 3. Staf Dep. Kaderisasi Islamic Center Al-Ijtima'i, FIS UNJ (Periode 2006-2007) 4. Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Sosial Politik, FIS UNJ (Periode 2006-2007) 5. Ketua Bidang Pemberdayaan Anggota, HMI Koorkom UNJ (Periode 2006-2007 dan Periode 2007-2008) 6. Ketua Umum Keluarga Mahasiswa Minang (KMM) Koorkom UNJ (Periode 2008-2009) 7. Sekretaris Jenderal Himpunan Nasional Mahasiswa PKN (HIMNAS PKN) (Periode 2008-2009) 8. Aktif di Pusat Kajian dan Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (PKPIS), UNJ

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s