Mahasiswa, Demonstrasi dan Kekerasan Oleh Satriwan, S.Pd[1]

Standar

Akhir-akhir ini wajah demokrasi Indonesia tengah diuji secara empiris oleh komponen-komponen dalam sistem demokrasi itu sendiri. Secara nasional rakyat Indonesia mempunyai konsensus untuk menggunakan demokrasi sebagai sistem politik. Walaupun konsensus nasional tersebut (istilah demokrasi) tidak menyebutkan secara eksplisit di dalam konstitusi Indonesia. Demokrasi merupakan sistem politik yang (dianggap) ideal oleh dunia global sekarang. Makanya sistem tersebut digunakan oleh mayoritas negara-negara di dunia termasuk Indonesia. Setiap rezim di Indonesia, mulai Soekarno (Orde Lama), Soeharto (Orde Baru) sampai pasca reformasi sekarang, demokrasi dimaknai dan diartikulasikan oleh rezim penguasa. Pengartikulasian demokrasi tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam berbagai kebijakan strategis terkait hak-hak publik, pembagian kekuasaan (distribution of power) yang jelas, pelaksanaan Pemilu, supremasi hukum, kebebasan pers, penghormatan HAM, anti diskriminasi, penguatan isu gender, kebebasan menyampaikan pendapat dan masih banyak yang lainnya. Semua komponen demokrasi tersebut berangsur-angsur tidak lagi menjadi harga mahal di republik ini. Kita mesti adil dan objektif melihat, jika kondisi demokrasi kita sekarang sudah menuju arah perbaikan.

Salah satu perangkat demokrasi yang sekarang tidak tabu lagi untuk dibicarakan bahkan dilakukan yaitu demonstrasi, sebagai bentuk kebebasan berekspresi dalam menyatakan pendapat. Memang dalam konstitusi kita UUD 1945 Pasal 28A-28J memuat secara jelas bahwa diantara penghormatan kepada HAM, termuat hak untuk menyampaikan pendapat di muka umum. Inilah konsekuensi demokrasi yang menempatkan posisi manusia adalah sama (equal). Masyarakat Indonesia boleh-boleh saja dan legal secara hukum untuk menyampaikan aspirasi mereka kepada pemerintah. Karena penguatan sistem demokrasi tidak akan tercapai jika komponen civil society tidak mendapatkan ruangnya di tegah-tengah publik. Kekuatan rakyat (ekstraparlementer) merupakan bentuk kohesivitas sosial masyarakat, dalam menjalankan fungsi kontrolnya terhadap pemerintah. Harga yang mahal ketika kebebasan menyampaikan pendapat itu menjadi barang haram di zaman Orde Baru. Masyarakat (awam) belum mengenal secara terbuka yang namanya demonstrasi pada wakti itu. Karena tindakan represifitas pemerintah sangat kuat terhadap komponen civil society. Demokrasi diinterpretasikan secara sepihak dan (cenderung) monolitik oleh rezim penguasa, sehingga menutup keterlibatan publik secara langsung dan terbuka. Tidak ada yang mengontrol pemerintah, karena DPR/MPR waktu itu hanya menjadi lembaga penstempel setiap kebijakan pemerintah. Kata pemerintah A pasti legislatif juga setuju A, begitu setersusnya.

Bagaimana dengan posisi mahasiswa? Sebagai salah satu komponen civil society, eksistensi mahasiswa tidak akan terbuang dalam dinamika sejarah republik ini. Mulai dari pra kemerdekaan sampai dengan penumbangan rezim yang (dianggap) despotik dan otoriter. Karena karakteristik pemimpin dengan dua ciri tersebut menjadi musuh utama sistem demokrasi. Peranan sosial dan politik mahasiswa dalam menurunkan Soekarno dan Soeharto menjadi bukti kongkritnya. Mahasiswa merupakan agent of social change, begitulah para aktivis mahasiswa meletakkan posisi kaum intelektual ini. Memiliki posisi yang terdepan untuk melakukan kontrol sosial, bagi setiap perubahan yang tengah terjadi, tidak melulu tekait politik tetapi lebih bersifat universal. Kekuatan mahasiswa sekarang kembali diuji sebagai instrumen penguatan demokrasi di negara ini, ketika demonstrasi kembali marak di tanah air, khususnya menyangkut penyelesaian kasus bailout Bank Century. Ini kemudian diartikulasikan ke dalam berbagai bentuk aksi unjuk rasa (yang halal tersebut), di setiap daerah. Isunya rata-rata hampir sama yaitu, segera tuntaskan kasus Bank Century secara jujur dan terbuka dan seret para pejabat negara termasuk Boediono dan Sri Mulyani secara hukum. Pada umumnya dua wacana inilah yang menjadi episentrum gerakan mahasiswa dalam berdemonstrasi.

Sebagai sarana menyampaikan aspirasi publik kepada pemerintah, demonstrasi awalnya menjadi instrumen yang ampuh. Pada masa Orla dan Orba, umumnya yang melakukan demonstrasi adalah mahasiswa. Tetapi rezim berubah sekarang ini demonstrasi bukan lagi monopoli mahasiswa, ibu rumah tanggapun sudah jamak melakukan aksi massa tersebut. Namun yang menjadi catatan kritis kita adalah, bagaimana sebuah demonstrasi benar-benar menjaga etika dan sesuai hukum. Ada istilah yang terkenal yaitu melanggar hukum (HAM) untuk menegakkan hukum (HAM). Dua frase yang paradoksal secara gramatikal, tentu juga pemaknaannya. Bagaimana bisa jika tuntutannya adalah penegakkan hukum tetapi secara nyata (subjeknya) melakukan pelanggaran hukum. Ini hanya sebuah upaya kontemplasi sosial terhadap berbagai aksi demonstrasi yang (mulai) marak dilakukan sekarang. Karena menjadi adagium di mata publik bahwa demonstrasi itu adalah kekerasan (walaupun saya juga tidak setuju dengan ini). Upaya mengidentikkan demontrasi dengan kekerasan oleh masyarakat bukanlah pekerjaan yang salah. Sebab secara empiris masyarakat melihat bahkan merasakan hal itu. Demonstrasi yang tadinya merupakan gerakan moral (moral forces), terdistorsi menjadi bentuk kekerasan. Penulis di sini tidak berupaya menggeneralisir persoalan, tetapi berusaha mengelaborasinya secara seimbang, terserah publik nanti menilainya. Bahwa beberapa gerakan demonstrasi mahasiswa diidentikkan dengan perilaku kekerasan, merusak dan anarkis itu memang ada. Namun jika menggunakan logika sebaliknya, dalam bayak demonstrasi yang terjadi, juga ada provokasi-provokasi yang dilakukan oleh orang yang tak bertanggung jawab. Inilah misteri demonstrasi yang belum terjawab sampai sekarang. Seperti kejadian di Makassar seminggu yang lalu, ketika teman-teman HMI Cabang Makassar melakukan aksi demonstrasi yang awalnya berjalan damai tiba-tiba berubah menjadi aksi kekerasan. Apakah karena ”invisible hand” yang menjadi provokator tadi, atau by design oleh aparat dan masih banyak faktor lainnya.

Secara sosiologis masyarakat yang terdiri dari unit-unit terkecil yaitu keluarga, mempunyai ”kehormatan” yang sampai matipun akan tetap dipertahankan. Dalam konteks kekerasan di Makassar, penyerangan terhadap kantor sekretariat HMI Cabang Makassar merupakan bentuk pelecehan terhadap kehormatan keluarga besar HMI (yang nyata-nyata) tidak hanya ada di sana, tetapi tersebar di seluruh Indonesia. Jadi banyak faktor lain termasuk sosial-kultural masyarakat yang menyebabkan aksi demontrasi berubah menjadi tontonan kekerasan. Penulis ingin mengatakan bahwa demonstrasi dan kekerasan adalah hal yang berbeda, baik secara idea maupun secara empiris. Tetapi ketika dalam banyak kejadian aksi demonstrasi selalu berujung kepada kekerasan inilah yang perlu ditelaah bersama tentu dengan logika dan hati yang jernih. Jangan sampai publik antipati terhadap setiap demonstrasi khsususnya yang dilakukan mahasiswa sebagai kawah candradimuka penyambung lidah rakyat. Kita juga harus fair, tidak sedikit juga aksi demonstrasi mahasiswa yang mempunyai vested interest, kepentingan tersembunyi atau didanai oleh kepentingan kelompok-kelompok tertentu. Tapi sekali lagi kita mesti clear melihat dan menilai persoalan ini. Jebakan generalisasi menjadi terlarang dalam konteks ini tentunya.

Uraian sederhana ini hanya ikhtiar penulis menjelaskan bahwa posisi mahasiswa sebagai komponen utama civil society jangan berhenti pada titik klimaks. Jika masih bersepakat dengan demonstrasi sebagai sarana efektif menyampaikan aspirasi, silahkan saja itu hak politik. Namun perlu ditelaah kembali apakah betul instrumen penyampaian aspirasi publik hanya demonstrasi? Bagimana dengan dialog terbuka, mimbar bebas, melalui tulisan-tulisan, petisi dan lainnya, apakah sudah terlaksana? Penguatan sistem demokrasi di Indonesia menjadi harga mati, sambil kita mencari format-format lain yang sesuai dengan kultur masyarakat Indonesia yang majemuk ini. Ruang-ruang kosong demokrasi di republik ini harus selalu ditelusuri untuk diisi secara kompleks, demi perbaikan wajah demokrasi kita. Demonstrasi dan kekerasan adalah hal yang sangat distingtif. Tetapi jika setiap demontrasi berakhir dengan kekerasan, maka persepsi publik akan berubah menjadi kekerasan dan demonstrasi (mahasiswa) seperti uang logam yang berbeda sisinya. Spiral kekerasan yang pernah dikemukakan oleh Hans Kung patut untuk kita renungkan, bahwa setiap aksi kekerasan akan selalu menimbulkan kekerasan baru.


[1] Penulis adalah Peneliti di Pusat Kajian dan Pengembangan Ilmu-ilmu

Sosial (PKPIS) UNJ dan Guru SMA Labschool Jakarta.

About satriwan

Saya seorang mahasiswa lulusan jurusan ilmu sosial politik fakultas ilmu sosial unj. Keinginan saya untuk berkuliah di kampus negeri merupakan cita-cita dari kecil. Namun, ragu rasanya hati ini untuk bisa berkuliah, sebab orang tua tidaklah mampu seperti keluarga lain. Saya mencoba meranatu mengikuti jejak orang tua (bapak) untuk bersekolah smp dan SMA di Bogor. Dengan prestasi yang lumayan saya bisa mendaptkan beasiswa ketika di SMA. Sehingga ditawarkan untuk mengikuti program PMDK dari salah satu PTN di Jakarta oleh guru SMA tersebut. Syukur pada Allah, akhirnya saya diterima sebagai mahasiswa di Universitas Negeri Jakarta melalui jalur PMDK. Pengalaman Organisasi 1. Ketua Rohis SMAN 1 Ciawi, Bogor (Periode 2003-2004) 2. Staf Bazis LDK UNJ (Periode 2005-2006) 3. Staf Dep. Kaderisasi Islamic Center Al-Ijtima'i, FIS UNJ (Periode 2006-2007) 4. Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Sosial Politik, FIS UNJ (Periode 2006-2007) 5. Ketua Bidang Pemberdayaan Anggota, HMI Koorkom UNJ (Periode 2006-2007 dan Periode 2007-2008) 6. Ketua Umum Keluarga Mahasiswa Minang (KMM) Koorkom UNJ (Periode 2008-2009) 7. Sekretaris Jenderal Himpunan Nasional Mahasiswa PKN (HIMNAS PKN) (Periode 2008-2009) 8. Aktif di Pusat Kajian dan Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (PKPIS), UNJ

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s