Membaca Teks Gus Dur[1] Oleh Satriwan[2]

Standar

Narasi tahun 2009 berakhir klimaks di saat wafatnya Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang mengejutkan segenap komponen bangsa dan dunia internasional. Sebagai salah seorang mantan presiden, kepergian Gus Dur dijadikan sebagai hari bekabung nasional oleh pemerintah, sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa-jasanya untuk bangsa dan negara. Tak berhenti pada berkabung selama tujuh hari saja, tetapi kepergian Gus Dur meninggalkan banyak cerita baik yang terkait dengan sikap politik beliau, kisah humor, kegaiban di seputar Gus Dur –meminjam istilah Mahfud MD-, pemikiran keislaman dan pluralismenya yang terangkum dalam istilah berebut wasiat Gus Dur. Personalitas Gus Dur sebagai objek telaah yang bisa diambil dari multidimensi, mengakibatkan banyak juga interpretasi terhadap personal Gus Dur itu sendiri sebagai objek telaah. Menjadi lebih menarik untuk diperbincangkan karena individu yang satu ini menjadi tokoh kontroversial yang terbaca dari pemikiran, perspektif dan sikap selama hidup sampai akhir hayatnya. Bahkan telaah yang bersifat biografis almarhum ini dituangkan oleh Greg Berton. Magnet seorang Gus Dur mampu menarik subjek material-material tertentu untuk kembali membacanya, dalam rangka pemenuhan keingintahuan tentang objek telaah tersebut (personal Gus Dur).

Meminjam istilah Ulil Abshar Abdalla, salah seorang murid Gus Dur bahwa Gus Dur seperti teks yang terbuka. Ketika dicoba untuk dielaborasi lebih kompleks mengenai Gus Dur (teks yang terbuka) tentu akan memiliki konsekuensi logis. Karena sebuah teks memang benar akan berdiri sendiri sebagai sebuah teks. Tetapi teks tersebut akan hidup dan mempunyai daya resonansi keluar jika ada upaya penelaahan (interpretasi) terhadap teks tersebut. Sebagai sebuah teks terbuka menjadi sangat mungkin penelaah yang mencoba melakukan interpretasi juga berasal dari ragam latar belakang. Tak dibatasi oleh primordial tertentu, lintas kalangan, golongan, agama bahkan internasional. Karena prakondisinya adalah Gus Dur sebagai teks terbuka. Maka akan terbuka juga telaah atau interpretasi, lebih mudahnya disebut saja dengan membaca teks Gus Dur. Upaya personal bahkan kolektif mengerahkan daya intelektualitas untuk membaca Gus Dur sebagai teks membutuhkan kompleksitas pengetahuan, sebab teks yang sekarang dibaca adalah bukan monoteks yang abstrak. Monoteks di sini yaitu teks tersebut tidak bersifat monoton, pasif, tak bersinggungan dengan realitas sosial historis yang majemuk, terlepas dari dimensi-dimensi yang menyertainya atau teks yang diam. Gus Dur merupakan sebuah rangkaian teks hidup yang bergerak seiring perjalanan waktu dan senantiasa bersentuhan dengan realita sosia historis yang majemuk. Narasi biografis beliau yang melintasi berbagai realita, pergulatan intelektual, otoritarianisme rezim, kultur Jawa, tradisionalis Islam, era globalisasi, sebagai penguasa, aktivis demokrasi termasuk keturunan darah biru. Kompleksitas seorang Gus Dur tidak berdiri sendiri dan konstan bergerak pada titik yang sama. Latar belakang atau kondisi sosial yang mempengaruhi pemikiran, perspektif dan sikap Gus Dur tersebut mutlak dipahami agar mampu membaca teks Gus Dur secar utuh.

Uraian lebih jauh dalam membaca Gus Dur bagi penafsir-penafsir teks Gus Dur mesti bertemu dalam satu titik konvergensi yang bisa diterima oleh semua. Oleh karena itu sebagai bentuk interpretasi maka pembacaan terhadap Gus Dur memang tak lepas dari relativitas pembaca yang juga memiliki banyak pendekatan terhadap objek telaahnya. Sebagai teks dia tidak dimiliki atau didominasi oleh satu atau beberapa kelompok/orang penafsir saja. Tidak ada penafsir tunggal terhadap teks Gus Dur yang terbuka, walaupun penafsir tersebut mempunyai persinggungan ideologis, sebagai murid/santri bahkan keterkaitan biologispun tidak determinatif terhadap pembacaan teks Gus Dur. Pembacaan Gus Dur bukan monopoli satu atau beberapa kelompok, karena sebagai teks yang hidup justru akan menjadi lebih kerdil jika menafsirkan pemikiran Gus Dur hanya dari satu dimensi apalagi dengan pendekatan yang parsial. Meminjam istilah Syaiful Arif berbicara pemikiran Gus Dur, mengatakan bahwa para pembaca Gus Dur “berebut teks Gus Dur” sebagai bentuk pembacaan dari berbagai sisi. Ini semua adalah upaya intelektualitas dialogis dan tentunya berfaedah bagi pengembangan ide-ide Gus Dur, untuk kemudian diterjemahkan ke dalam praktik sosial masyarakat.

Titik konvergensi yang dimaksudkan yakni penterjemahan semua pemikiran dan perspektif Gus Dur sebagai seorang intelektual Islam, aktivis pro demokrasi, menghargai HAM dan pluralisme ke dalam suatu tindakan sosial yang terbuka. Akan menjadi lebih hidup dan bersinggungan dengan realita empiris jika penterjemahan itu bersifat kontekstual. Kontekstualitas menjadi prasyarat utama agar bahasa pemikiran tidak hanya berkutak-atik dalam kekuatan dunia ide seperti kata filsuf Plato. Maka pemikiran Gus Dur pun mesti dikontekstualisasikan, karena sebagai entitas relatif seorang Gus Dur pun tak lepas dari bahasa zaman yang bersentuhan dengannya. Dibutuhkan energi yang besar sepertinya untuk membaca kemudian menterjemahkan teks Gus Dur ke dalam ranah bahas zaman yang selalu berkembang. Para pembaca teks Gus Dur tentu akan berhadapan vis a vis dengan dialektika zaman itu sendiri. Tanpa mengurangi ta’zhim akan originalitas ide dan pemikiran Gus Dur tersebut yang sesuai dengan bahasa zamannya. Walaupun kendala yang banyak ditemukan adalah teks Gus Dur yang kadang-kadang “dianggap” tidak konsisten dalam berpikir dan bersikap. Namun bagi pembaca Gus Dur yang literal akan habis-habisan membantah jika sikap Gus Dur seperti itu bukan karena inkonsistensinya sebagai intelektual, tetapi karena para pembaca Gus Dur yang belum mampu membaca pemikirannya secara utuh dan holistik. Ini bentuk pembelaan konvensional bagi pembaca Gus Dur yang literal tersebut.

Jika kembali membaca sejarah setiap tokoh dari berbagai lintas komunitas, kepergian tokoh tersebut selalu diiringi oleh kontroversi apakah karena kematiannya atau wasiat peninggalan yang ditinggalkan. Beda hal mungkin bagi Gus Dur, jangankan kontroversi apa wasiatnya sebelum pergi, (untuk anak, saudara, partai, kawan seideologis, para murid dan pengagum), dikala beliau masih hiduppun seorang Gus Dur menjadi tokoh yang kontroversial. Perbedaan interpretasi tentang wasiat Gus Dur bagi PKB sebagai rumah ideologis-politis almarhum tetap saja terjadi antara anak dan keponakan. Namun inilah pembacaan politik, bukan pembacaan yang bersifat kultural yang sarat makna transenden dan filosofis. Pembacaan politik tetap saja dinilai sebagai upaya kekuasaan yang sarat mutan profanitasnya. Semua itu memang tidak ada kata berhenti untuk membaca dan menterjemahkan teks Gus Dur secara kontekstual. Tapi sekali lagi itulah teks Gus Dur yang sejatinya hanya Gus Dur dan Tuhanlah yang tahu dan memahami apa hakikat teks Gus Dur tersebut. Wallahu’alam Bisshowab


[1] Sebuah ikhtiar sederhana untuk membaca seorang Abdurrahman Wahid (Allahyarham).

[2] Penulis adalah Peneliti di Pusat Kajian dan Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (PKPIS) UNJ.

About satriwan

Saya seorang mahasiswa lulusan jurusan ilmu sosial politik fakultas ilmu sosial unj. Keinginan saya untuk berkuliah di kampus negeri merupakan cita-cita dari kecil. Namun, ragu rasanya hati ini untuk bisa berkuliah, sebab orang tua tidaklah mampu seperti keluarga lain. Saya mencoba meranatu mengikuti jejak orang tua (bapak) untuk bersekolah smp dan SMA di Bogor. Dengan prestasi yang lumayan saya bisa mendaptkan beasiswa ketika di SMA. Sehingga ditawarkan untuk mengikuti program PMDK dari salah satu PTN di Jakarta oleh guru SMA tersebut. Syukur pada Allah, akhirnya saya diterima sebagai mahasiswa di Universitas Negeri Jakarta melalui jalur PMDK. Pengalaman Organisasi 1. Ketua Rohis SMAN 1 Ciawi, Bogor (Periode 2003-2004) 2. Staf Bazis LDK UNJ (Periode 2005-2006) 3. Staf Dep. Kaderisasi Islamic Center Al-Ijtima'i, FIS UNJ (Periode 2006-2007) 4. Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Sosial Politik, FIS UNJ (Periode 2006-2007) 5. Ketua Bidang Pemberdayaan Anggota, HMI Koorkom UNJ (Periode 2006-2007 dan Periode 2007-2008) 6. Ketua Umum Keluarga Mahasiswa Minang (KMM) Koorkom UNJ (Periode 2008-2009) 7. Sekretaris Jenderal Himpunan Nasional Mahasiswa PKN (HIMNAS PKN) (Periode 2008-2009) 8. Aktif di Pusat Kajian dan Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (PKPIS), UNJ

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s