RAMADHAN DALAM REKONSTRUKSI TEOLOGIS Oleh SATRIWAN

Standar

Bulan Ramadhan menjadi momentum sakral yang penuh nilai transedental bagi seluruh umat muslim global, khususnya di Indonesia. Datangnya ramadhan yang diserukan dalam kitab suci secara tekstual, hanya untuk orang-orang yang beriman. Sebab kategori dan kualifikasi orang-orang yang beriman memang bukanlah kualifikasi imanen tetapi lebih bersifat ilahiah. Kewajiban berpuasa bagi orang-orang yang beriman menjadi prasyarat untuk memperoleh predikat takwa di sisi Tuhan Sang Omni Present. Sebuah posisi puncak dalam tingkat keberagaman seseorang. Nilai-nilai kehidupan universal inheren disampaikan dalam pesan ramadhan yang setiap tahun datang. Puasa sebagai media agar pro terhadap kaum marjinal atau termajinalkan, bermakna bahwa puasa dijadikan media agar umat muslim tidak hanya simpati tetapi merasakan dan mencoba dalam posisi serba lemah. Kaum marjinal jika dibahasan secara sederhana linier dengan kaum yang lemah (dhoif). Dalam peribadahan formalitas fisik, puasa merupakan manifestasi kehidupan manusia yang tidak berdaya, lemah, inferior, terkekang, dibatasi, menahan (imsak) dan serba kurang. Setiap muslim yang berpuasa tidak boleh makan, minum, melakukan aktivitas hubungan suami istri (siang hari), makan yang terjadwalkan dan tidak mengerjakan kegiatan yang dilarang agama karena bisa mengurangi pahala puasa bahkan membatalkannya.

Berpuasa dalam konteks kekinian mestilah diinterpretasikan secara holistik dan fungsional. Jika umat muslim berpuasa hanya sekedar pelepas kewajiban ilahiah, maka umat muslim telah terjebak dalam rutinitas ritual belaka yang minim pemaknaan substantif. Kewajiban puasa yang terbatas bagi yang beriman merupakan kualifikasi transenden ilahiah, sebab dengan puasa diharapkan seorang muslim menjadi individu yang sempurna (kamil). Dalam memerintahkan suatu perbuatan, Tuhan ternyata punya terget-target tertentu bagi hambanya, dalam konteks puasa Tuhan bertujuan agar yang berpuasa menjadi personal yang bertakwa. Waktu satu bulan umat muslim berhadapan dengan suasana yang serba dibatasi. Terbatas dari makanan dan minuman yang halal tadinya dikonsumsi siang hari, tetapi pada bulan puasa semua itu dilarang. Secara fisik orang yang berpuasa memiliki kondisi fisik yang lemah, karena asupan makanan tidak rutin seperti hari-hari biasa. Pembatasan terhadap aktivitas yang dinilai negatif menjadi pengekanan tersendiri bagi yang berpuasa. Semuanya itu seakan-akan menempatkan posisi orang yang berpuasa menjadi serba terbatas. Perasaan inilah sejatinya yang ingin disampaikan oleh momentum puasa setiap tahun bagi umat muslim. Pro terhadap kaum marjinal atau kaum lemah, papa dan miskin bukanlah suatu pemihakan kalah menang seperti dalam politik dan kompetisi. Tetapi lebih merupakan pemihakan kehidupan yang bersisikan nilai universal bahwa kaum marjinal, lemah, miskin kepada realitas kehidupan manusia. Dengan bahasa lain puasa adalah sebuah aktivitas pemihakan Tuhan terhadap kaum dhoif.

Sesunggunya Tuhan ingin mengajak manusia untuk berempati kepada kaum yang terpinggirkan karena ekonomi lemah. Orang-orang menganggur karena mencari pekerjaan semakin sulit dan kejamnya sistem perekonomian yang hanya berpihak kepada kaum berduit. Menjadi sebuah kebenaran bahwa kemiskinan dan pengangguran bukan saja ada dan hidup dakam angka-angka yang selalu diperdebatkan, namun menjadi pemandangan sehari-hari. Anehnya kita hanya memperdebatkan definisi miskin dengan beragam kriteria miskin itu. Antara World Bank dan Pemerintah Indonesia, terjadi perbedaan yang mencolok mengenai definisi miskin. Tentu ini bukanlah tujuan sesungguhnya, toh kemiskinan dan pengangguran tetap saja ada dan menjadi tugas bersama untuk menguranginya. Kebijakan ekonomi dipahami sebagai instrumen untuk menciptakan kesejahteraan bagi masyarakat di suatu negara. Pemaknaan kembali puasa sebagai media esoteris institusi agama (Islam) untuk memahami realita sosial masyarakat, menjadi absolut untuk dipikir ulang (rethingking). Puasa bukan saja aspek eksoteris agama (Islam) yang dimaknai secara formal fiqh sebagai bangunan institusi agama yang difardhukan, tetapi melebihi tradisi fiqh secara pemaknaannya. Sejarah telah berkata baik bersumber dari Al-Qur’an maupun teks-teks klasik lainnya, bahwa puasa tidak hanya diwajibkan bagi umat Islam, tetapi bagi umat-umat lainnya. Pemberdayaan ekonomi masyarakat lemah dan kecil mutlak dilakukan, sebab makna puasa mesti ditransformasikan ke dalam wujud keadilan ekonomi.

Jika kemiskinan dan pengangguran masih saja menjadi realita bahkan dikatakan tradisi, sungguh puasa belum terbekas di dalam qolbu umat Islam khususnya di Indonesia. Tuhan ingin mengajak manusia untuk melakukan kontemplasi sosial terhadap kaum miskin dengan segala limitasinya dalam berbagai aspek kehidupan. Jurang demarkasi terjal antara yang kaya dengan yang miskin (lemah) makin terlihat ketika kebijakan-kebijakan yang diproduksi secara legal-formal atas nama negara, belum memihak kepada yang dhoif tersebut. Secara konstitutif negara telah menjamin bahwa orang miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara (UUD 1945 Pasal 34 Ayat 1). Apa yang salah sebenarnya terjadi di dalam republik ini, ketika para koruptor bergelimang uang dan berbagai fasilitas negara, paradoks dengan rakyat miskin, pengangguran yang mendiami kolong Indonesia ini. Para pengemplang uang negara, sebutlah BLBI malah didiamkan begitu saja, belum lagi BLBI Jilid II yakni kasus Bank Century. Masyarakat sebagai basis utama civil society tak akan berhenti untuk meminta konsistensi pemerintah untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur.

Sebagai bentuk refleksi diri dalam konteks nasional, sudah waktunya umat Islam mereposisi eksistensinya sebagai warga mayoritas di republik ini. Bisa dimulai dari melakukan aktivitas ritual yang fungsional seperti puasa ramadhan, yang menyimpan pesan horizontal selain vertikal. Puasa termanifestasi dalam wujud kesalehan sosial dan tentunya personal. Kesalehan sosial tersebut bisa terwujud oleh state (negara) dalam bentuk kebijakan yang benar-benar pro dan konsisten terhadap pemberdayaan masyarakat lemah, miskin dan termarjinalkan. Kemudian perwujudan kesalehan sosial juga ditampakkan oleh kepedulian umat dan bangsa terhadap realita sosial di sekeliling, dari segala aspek. Puasa mengajarkan umat untuk empati kepada para faqir dan miskin dengan segala narasi kehidupannya. Begitu juga terhadap alam, puasa telah menitikkan tetesan hikmahnya agar manusia tidak serakah terhadap alam, kerakusan dengan eksploitasi total tanpa peduli dampak sosial-lingkungan, baik sekarang maupun untuk masa depan. Puasa juga mengajarkan agar syahwat ekonomi, politik, jabatan dan kekuasaan dibendung untuk dikelola secara baik dan sesuai aturan. Ibadah ritual di bulan puasa yang dilakukan umat Islam jangan sampai terhenti pada titik kuantitas belaka. Tetapi lebih kepada dua hal utama, pertama kuantitas ibadah ramadhan yang linier dengan peningkatan kualitas personal dan memiliki gerak sentrifugal terhadap kehidupan sosial. Sholat tarawih, witir, puasa, memperbanyak zikir, tadarrus Qur’an, sholat sunah dan shodaqoh. Bukan ritual belaka yang tidak ada resonansi personal dan sosial. Kedua, ritual dalam ramadhan mesti berwatak fungsional yaitu ibadah personal yang diimplementasikan secara ril dalam kehidupan. Shodaqoh tidak lagi sekedar memberi dari si kaya kepada si miskin, atau yang punya kepada yang faqir tetapi naik tingkat menjadi pemberian (tentu dengan ikhlas) manfaat dari kepemilikan atau kemampuan individual untuk maslahat sosial. Ini tidak hanya bisa dilakukan seorang muslim, tapi bisa juga oleh negara, di saat negara (pemerintah) memproduksi berbagai regulasi nasional yang protektif terhadap rakyat. Pemberdayaan ekonomi rakyat, harga sembako murah, pendidikan murah, supremasi hukum yang tidak pandang bulu, investasi asing yang berimbang dan adil, pengelolaan hutan yang peka terhadap lingkungan, menghukum koruptor, memberikan lapangan kerja, tidak menjual aset negara ke tangan asing dan tentunya komitmen dari pemerintah sendiri.

Ramadhan sebagai bulan yang ditunggu-tunggu umat Islam telah menorehkan lembaran-lembaran suci dan penuh makna, agar ritual ramadhan tidak tereduksi makna dan nilainya. Episentrum ramadhan terletak pada implementasi vertikal terhadap Allah swt dan horizontal yaitu bagi kehidupan sosial tentunya. Tentu semuanya itu menjadi dasar pijakan teologi ramadhan, yang diharapkan mampu merevitalisasi makna ramadhan bagi kehidupan bangsa dan negara. Ramadhan akan menjadi garis awal bagi terbukanya kesadaran sosial seorang muslim. Selama satu bulan menjadi manusia yang merasakan ”menjadi yang lain” yang biasanya terlupakan bahkan terpinggirkan baik oleh sesamanya maupun oleh negara. Semoga ramadhan tahun ini menjadi narasi korektif atas ramadhan-ramadhan sebelumnya.

About satriwan

Saya seorang mahasiswa lulusan jurusan ilmu sosial politik fakultas ilmu sosial unj. Keinginan saya untuk berkuliah di kampus negeri merupakan cita-cita dari kecil. Namun, ragu rasanya hati ini untuk bisa berkuliah, sebab orang tua tidaklah mampu seperti keluarga lain. Saya mencoba meranatu mengikuti jejak orang tua (bapak) untuk bersekolah smp dan SMA di Bogor. Dengan prestasi yang lumayan saya bisa mendaptkan beasiswa ketika di SMA. Sehingga ditawarkan untuk mengikuti program PMDK dari salah satu PTN di Jakarta oleh guru SMA tersebut. Syukur pada Allah, akhirnya saya diterima sebagai mahasiswa di Universitas Negeri Jakarta melalui jalur PMDK. Pengalaman Organisasi 1. Ketua Rohis SMAN 1 Ciawi, Bogor (Periode 2003-2004) 2. Staf Bazis LDK UNJ (Periode 2005-2006) 3. Staf Dep. Kaderisasi Islamic Center Al-Ijtima'i, FIS UNJ (Periode 2006-2007) 4. Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Sosial Politik, FIS UNJ (Periode 2006-2007) 5. Ketua Bidang Pemberdayaan Anggota, HMI Koorkom UNJ (Periode 2006-2007 dan Periode 2007-2008) 6. Ketua Umum Keluarga Mahasiswa Minang (KMM) Koorkom UNJ (Periode 2008-2009) 7. Sekretaris Jenderal Himpunan Nasional Mahasiswa PKN (HIMNAS PKN) (Periode 2008-2009) 8. Aktif di Pusat Kajian dan Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (PKPIS), UNJ

2 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s