KEMERDEKAAN DAN NASIONALISME SEHARI OLEH SATRIWAN

Standar

Perayaan hari kemerdekaan setiap 17 Agustus menjadi momen penting yang bernilai historis dan filosofis bagi bangsa Indonesia. Secara formal setiap lembaga/ instansi baik pemerintah maupun swasta mengharuskan melaksanakan upacara bendera. Pemandangan lainnya tampak hidup dalam masyarakat Indonesia yang merayakan hari kemedekaan tersebut secara kultural. Berbagai macam perlombaan yang tidak dimiliki negara lain ada pada masyarakat Indonesia. Lomba tangkap belut, memasukkan paku ke dalam botol, tarik tambang, makan kerupuk bahkan panjat pohon pinang yang menjadi karakteristik utamanya. Bisa dibilang masyarakat Indonesia sangat ekspresionis untuk merayakan hari proklamasi tersebut. Media massa secara nasionalpun memuat berita yang tidak jauh dari perayaan hari kemerdekaan Indonesia. Menjadi pertanyaan berikutnya adalah bagaimana sesungguhnya penghayatan bangsa Indonesia terhadap yang namanya merdeka dan kemerdekaan. Pantas untuk dielaborasi lebih mendalam lagi, bagaimana semestinya penghayatan sebagai bangsa akan kemerdekaan yang diekspresikan dengan berbagai bentuk.

Kemerdekaan merupakan sebuah kondisi yang terwujud secara yuridis formal dan kutural, menjadi ekspresi suatu bangsa dalam menjalani narasi besar sebagai bangsa dan negara. Kondisi selama ratusan tahun dijajah secara fisik dan psikologis, telah membentuk karakter masyarakat Indonesia menjadi kuat dan sabar dalam menghadapi setiap tantangan. Satu kata yang kemudian menjadi barang mahal dan susah untuk didapatkan yaitu kata merdeka. Merdeka merupakan ungkapan bernilai emosional, filosofis, psikologis dan politis secara fundamental. Sebuah keadaan yang serba terkekang, tidak bisa mengekspresikan ungkapan-ungkapan jiwa yang terdalam, ungkapan-ungkapan pikiran yang menembus cakrawala langit. Inilah yang terpenting jika dibandingkan dengan formalitas yang bernilai material semata. Bangsa yang terkekang kemerdekaannya akan lebih sulit untuk menjadi bangsa yang besar dan bertahan dalam perkembangan zaman.

Momen tanggal 17 Agustus 1945 menjadi penting dan menentukan dalam penentuan sikap secara kolektif sebagai sebuah bangsa, jangan hanya berhenti pada titik formal 17 Agustusnya saja. Tapi sebuah ikhtiar kolektif yang menasional untuk diteruskan agar lebih merdeka secara emosional, ekonomi, sosial, budaya, pendidikan dan aspek hidup lainnya. 17 Agustus 1945 cukup sebagai pertanda untuk mengatakan kepada dunia global bahwa Indonesia sebagai bangsa dan negara menyatakan kemerdekaannya. Jadi jika ada yang mengatakan hari kemerdekaan adalah 17 Agustus 1945, penulis berkeyakinan itu dalah pernyataan kurang pas. Pada tanggal itu Indonesia baru menyatakan kemerdekaannya yang sifatnya yuridis formal. Pencapaian dan peryataan kemerdekaan secara yuridis formal memang dinyatakan pada 17 Agustus 1945. Namaun bagaiamana dengan merdeka dan kemerdekaan substantif yang menjadi cita-cita sesungguhnya? Terbebas dari kemiskinan, akses pendidikan yang mahal, keterbelakangan, korupsi, ketidakadilan, pseudo demokrasi, pengangguran, mengutamakan politik kelompok, demokratisasi yang melelahkan dengan cost yang mahal dan banyak lagi. Terbebas dari keadaan seperti inilah yang menjadi kemedekaan sejati yang substantif bagi masyarakat Indonesia.

Kemerdekaan baik yang sifatnya yuridis formal maupun kemerdekaan secara cultural (substantif), dapat dicapai dengan suatu keadaan jiwa yang terimplementasi dalam suatu hidup yakni nasionalisme. Teori Kebangsaan oleh publik dikenal dengan pencetusnya, Ernest Renan memaparkan bahwa nasionalisme sebagai suatu ikatan komunitas (bangsa) yang bersatu, diikat oleh rasa kebersamaan, satu nasib dan kemauan (kehendak) bersama. Hampir seirama dengan teori F. Ratzel, bangsa terbentuk karena adanya hasrat bersatu, yang timbul karena adanya rasa kesatuan antara manusia dan tempat tinggalnya. Akar yang menjadi karakter nasionalisme suatu bangsa adalah rasa senasib dan cita-cita bersama. Perasaan yang sama bangsa Indonesia adalah sama-sama dijajah oleh bangsa asing (historis) secara fisik dan tentunya psikologis juga. Tujuan yang sama sebagai suatu bangsa yaitu ingin kemerdekaan hakiki. Narasi berliku bangsa Indonesia tidak berhenti sampai di situ saja, tetapi tetap berjalan sampai detik ini. Namun perasaan yang sama-sama dijajah oleh imperialis asing secara fisik sekarang terkonversi menjadi penjajahan secara kultural. Penjajahan model klasik/tradisional tadi cukup menjadi catatan sejarah yang bernlai bagi Indonesia ke depan. Kini yang tengah dihadapi bangsa Indonesia adalah penjajahan model kontemporer. Zaman postmodern inipun meresosnansi getarannya ke berbagai aspek kehidupan lainnya.

Kedaan masyarakat Indonesia di depan mata sekarang belumlah merdeka secara utuh dan sempurna. Kemerdekaan yang sifatnya kultural menjadi harga mati dan tak bia ditawar lagi. Merdeka dalam pendidikan, ketika pendidikan hanya pro terhadap kaum perkotaan dan beruang. Ketika pendidikan tidak lagi menjadi usaha ekonomis yang mereduksi nilai-nilai pendidikan itu sendiri. Pendidikan sebagai usaha sadar dan penuh nilai-nilai kemanusiaan untuk memanusiakan manusia bermutasi menjadi proses produksi yang melahirkan produk-produk tak bernyawa bak pabrik-pabrik. Pendidikan murah masih menjadi ilusi kolektif masyarakat Indonesia. Merdeka dalam ekonomi, ketika perekonomian menjadi kawah candradimuka bagi tercapainya kesejahteraan rakyat secara merata. Perekonomian yang protektif kepada kaum marjinal baik di kampung maupun di perkotaan. Perekonomian yang melindungi usaha kecil menengah dan selektif terhadap investasi asing. Bukan perekonomian yang dengan tangan terbuka menyambut investor asing untuk mengeksploitasi alam Indonesia secara serakah dan tak manusiawi. Perekonomian yang hidup bermesraan dengan kapitalisme global bahkan mengadopsi secara utuh ekonomi kapitalisme tersebut dalam kebijakan-kebijakan ekonomi nasional. Pembiaran terhadap potensi masyarakat yang tinggal di daerah perbatasan dengan negara lain. Sehingga nasionalisme mereka terkonversi menjadi lembaran ringgit.

Kemerdekaan secara sosial dan kebudayaan, ketika berkembangnya tradisi-tradisi lokal dalam memperkaya budaya nusantara. Kebudayaan yang tak memihak kepada realitas postmodernitas yang telah mengkerdilkan manusia sebagai manusia. Tumbuhnya masyarakat toleran dan pluralis yang tidak ada kompromi dengan kekerasan, tindakan represif dan pelanggaran HAM. Masyarakat miskin yang dilindungi oleh negara secara konsisten. Budaya instan yang telah menyeruak hadir meminggirkan kebudayaan lokal, yang dilahirkan dari materialisme. Sehingga nilai-nilai moral, etika, tradisi lokal dengan sendirinya diinjak zaman. Kemerdekaan dalam politik, ketika Pancasila secara konsisten diimplementasikan dalam berbagai kebijakan pemerintah dan kehidupan sosial. Pancasila sebagai common platform menjadi rujukan utama dalam setiap perilaku baik di pemerintahan maupun masyarakat. Kemerdekaan politik yang menjadikan demokrasi sebagai jalan tengah dan kompromi nasional bagi kesejahteraan rakyat. Bukanlah tindakan kekerasan, menyalahkan kelompok lain dan mau menang sendiri yang dilestarikan dalam kehidupan berpolitik. Etika politik menjadi cultural standing setiap perilaku politik setiap insan politik. Politik mestilah bermetamorfosa menjadi sebuah tindakan etis untuk mencapai kekuasaan yang penuh nilai-nilai kejuangan dan nasionalisme. Agar sebagai bangsa tidak lagi mendistorsi nilai-nilai filosofis perjuangan menjadi perjuangan angka-angka dan nominal semata.

Ekspresi kemerdekaan yang hidup dalam relung sanubari masyarakat Indonesia haruslah diimplementasikan dalam perjuangan untuk berteriak merdeka seutuhnya. Kemerdekaan parsial bukan menjadi cita-cita filosofis dan historis para founding fathers, tetapi kemerdekaan universal yang senantiasakan didambakan. Nasionalisme tidak berhenti pada titik selebrasi nasional yang diungkapkan melalui bahasa budaya rakyat saja. Tetapi jauh melampaui tradisi historis yang terbelenggu ruang dan waktu. Nasionalisme sepatutnya diungkapkan dengan ekpresi kemerdekaan yang mengisi ruang-ruang hampa segmentasi kehidupan dalam berbangsa dan bernegara. Nasionalisme dan kemerdekaan bukan lagi sebatas wujud bahasa rakyat yang terhenti pada satu titik dan satu hari saja. Merdeka!!!

About satriwan

Saya seorang mahasiswa lulusan jurusan ilmu sosial politik fakultas ilmu sosial unj. Keinginan saya untuk berkuliah di kampus negeri merupakan cita-cita dari kecil. Namun, ragu rasanya hati ini untuk bisa berkuliah, sebab orang tua tidaklah mampu seperti keluarga lain. Saya mencoba meranatu mengikuti jejak orang tua (bapak) untuk bersekolah smp dan SMA di Bogor. Dengan prestasi yang lumayan saya bisa mendaptkan beasiswa ketika di SMA. Sehingga ditawarkan untuk mengikuti program PMDK dari salah satu PTN di Jakarta oleh guru SMA tersebut. Syukur pada Allah, akhirnya saya diterima sebagai mahasiswa di Universitas Negeri Jakarta melalui jalur PMDK. Pengalaman Organisasi 1. Ketua Rohis SMAN 1 Ciawi, Bogor (Periode 2003-2004) 2. Staf Bazis LDK UNJ (Periode 2005-2006) 3. Staf Dep. Kaderisasi Islamic Center Al-Ijtima'i, FIS UNJ (Periode 2006-2007) 4. Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Sosial Politik, FIS UNJ (Periode 2006-2007) 5. Ketua Bidang Pemberdayaan Anggota, HMI Koorkom UNJ (Periode 2006-2007 dan Periode 2007-2008) 6. Ketua Umum Keluarga Mahasiswa Minang (KMM) Koorkom UNJ (Periode 2008-2009) 7. Sekretaris Jenderal Himpunan Nasional Mahasiswa PKN (HIMNAS PKN) (Periode 2008-2009) 8. Aktif di Pusat Kajian dan Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (PKPIS), UNJ

2 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s