Ambalat dan Tantangan Perdamaian Dua Negara Oleh Satriwan

Standar

Pasca pelanggaran terhadap garis batas teritorial laut yang dilakukan Malaysia terhadap perairan Ambalat, Kalimantan, hubungan diplomatik RI-Malaysia kembali terganggu. Persoalan yang bersifat laten ini berulang-ulang terjadi akibat perlanggaran wilayah teritorial RI yang dilanggar terus-menerus oleh Malaysia, karena klaim sepihak atas Ambalat oleh negara jiran itu. Hubungan benci tapi rindu ini, selalu menjadi pemanas antara pemerintah RI dan Malaysia. Relasi yang kurang harmonis sering dipicu oleh banyak tindakan Malaysia yang cenderung provokatif. Berdampak kepada tidak hanya secara formal struktural pemerintah, tetapi juga secara sosiologis-ideologis masyarakat (nasionalisme). Rakyat Indonesia tidak mau sejengkalpun tanah nusantara (wilayah darat, laut dan udara) ini lepas dengan mudahnya ke tangan negara lain.

Peristiwa ini otomatis menjadi konsumsi publik yang sensitif karena terkait nasionalisme kita. Perasaan inilah yang sekarang menggelora di dada rakyat Indonesia, walaupun secara empiris, mungkin saja banyak di antara masyarakat yang tidak tahu dan paham bagaimana kronologisnya sehingga Malaysia melakukan klaim sepihak atas Ambalat. Atau juga ada apa sebenarnya di Ambalat itu? Kenapa jiran kita ini sampai berulang-ulang melanggar batas wilayah laut suatu negara, yang nyata-nyata melanggar kedaulatan (souveregnity) dan otomatis melanggar hukum internasional. Alasan ekonomis eksploitatif adalah jawabannya.

Pada tahun 2007 pelanggaran teritorial Ambalat dilakukan Malaysia sebanyak 76 kali, 2008 sebanyak 23 kali dan sampai sekarang (2009) sebanyak 11 kali. Ini merupakan pengulangan kesalahan yang memang sengaja sifatnya. Ketegangan bilateral antara dua negara serumpun ini selalu menyangkut sentimen nasionalisme rakyat Indonesia. Belum lagi kasus klaim sepihak atas lagu daerah, reog ponorogo, rendang Padang, alat musik angklung (Sunda), batik ditambah jatuhnya putusan Mahkamah Internasional atas Pulau Sipadan dan Ligitan ke tangan Malaysia. Bagaimana langkah strategis dan damai yang mesti Indonesia tempuh untuk menyelesaikannya? Sebagaian kecil masyarakat sebenarnya sedari awal, ketika konflik Sipadan-Ligitan mencuat, ada yang mengajukan opsi perang. Tentu jika mengedepankan emosional belaka memang jalan itu tepat, karena menyangkut harga diri bangsa yang dicabik-cabik. Setidaknya ada dua solusi alternatif yang mesti dikembangkan oleh pemrintah dan bangsa Indonesia umumnya.

Pertama, solusi ke dalam yaitu pembenahan secara internal dan konsisten terhadap kekayaan bangsa kita. Secara teknis operasional itu bisa dilakukan dengan bukti-bukti historis dan yuridis bahwa kawasan Ambalat di Kalimantan Timur secara de jure dan de facto adalah milik Indonesia. Jangan seperti Sipadan-Ligitan karena bukti yuridis dan historisnya kita lemah di depan Mahkamah Internasional. Kemudian pembenahan ke dalam yaitu, menambah anggaran pertahanan. Miris memang karena dalam APBN 2009 anggaran pertahanan hanya Rp. 35 triliyun saja dari sekitar Rp. 1000 triliyun uang di APBN. Tambahan anggaran kemudian mesti dialokasikan untuk pembelian alutista dan kelengkapan kapal laut, pesawat, helikopter dan peralatan pertahanan lainnya.

Kedua, solusi ke luar yaitu dalam bentuk penguatan diplomasi pemerintah terutama dengan negara-negara yang berbatasan langsung dengan wilayah RI. Diplomasi yang kuat dan bermartabat mesti menjadi pijakan fundamental pemerintah, khususnya menyangkut harga diri bangsa. Agar kejadian sengketa wilayah tidak terjadi lagi dengan negara tetangga lainnya. Diplomasi kuat dan bermartabat merupakan jalan kultural dan politis demi mempertahankan setiap jengkal tanah ibu pertiwi dan terciptanya perdamaian kawasan (dunia).

About satriwan

Saya seorang mahasiswa lulusan jurusan ilmu sosial politik fakultas ilmu sosial unj. Keinginan saya untuk berkuliah di kampus negeri merupakan cita-cita dari kecil. Namun, ragu rasanya hati ini untuk bisa berkuliah, sebab orang tua tidaklah mampu seperti keluarga lain. Saya mencoba meranatu mengikuti jejak orang tua (bapak) untuk bersekolah smp dan SMA di Bogor. Dengan prestasi yang lumayan saya bisa mendaptkan beasiswa ketika di SMA. Sehingga ditawarkan untuk mengikuti program PMDK dari salah satu PTN di Jakarta oleh guru SMA tersebut. Syukur pada Allah, akhirnya saya diterima sebagai mahasiswa di Universitas Negeri Jakarta melalui jalur PMDK. Pengalaman Organisasi 1. Ketua Rohis SMAN 1 Ciawi, Bogor (Periode 2003-2004) 2. Staf Bazis LDK UNJ (Periode 2005-2006) 3. Staf Dep. Kaderisasi Islamic Center Al-Ijtima'i, FIS UNJ (Periode 2006-2007) 4. Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Sosial Politik, FIS UNJ (Periode 2006-2007) 5. Ketua Bidang Pemberdayaan Anggota, HMI Koorkom UNJ (Periode 2006-2007 dan Periode 2007-2008) 6. Ketua Umum Keluarga Mahasiswa Minang (KMM) Koorkom UNJ (Periode 2008-2009) 7. Sekretaris Jenderal Himpunan Nasional Mahasiswa PKN (HIMNAS PKN) (Periode 2008-2009) 8. Aktif di Pusat Kajian dan Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (PKPIS), UNJ

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s