NASIONALISME: SUATU SLOGAN KOSONG Oleh Satriwan

Standar

Tepat 101 tahun yang lalu, berdiri sebuah organisasi yang dibangun berdasarkan kesamaan visi antara para pelajar Jawa yang dikenal dengan nama Budi Utomo. 20 Mei setiap tahun diperingati sebagai hari kebangkitan nasional, walaupun banyak kalangan akademisi, sejarawan bahkan masyarakat awam yang tidak setuju jika tahun berdirinya Budi Utomo tersebut dijadikan peringatan sebagai hari kebangkitan nasional. Terlepas dari beragam kontroversi tersebut, penulis mencoba mengurai secara sederhana momentum hari kebangkitan nasional yang selalu diperingati tiap tahun oleh bangsa Indonesia. Momentum hari kebangkitan nasional sungguh sangat bermakna, jika ditengok pesan suci apa yang disampaikan oleh kebangkitan nasional. Jika dalam umat Kristiani ada istilah pesan Natal dan Paskah, tentu bisa juga menjadi analogi untuk hari kebangkitan nasional ini. Term nasionalisme merupakan idiom populer yang sering didengar dalam percakapan sehari-hari bahkan menjadi parameter untuk mengukur keindonesiaan seseorang. Ternyata sangat substantif istilah nasionalisme ini dalam kehidupan berbangsa masyarakat Indonesia.

Benedict Anderson mengatakan bahwa nasionalisme berakar dari imagined community. Masyarakat yang terbayangkan, inilah terjemahan sederhana terhadap konsepsi Anderson tentang suatu bangsa. Bawono Kumoro mendefinisikan suatu bangsa pada dasarnya adalah suatu komunitas sosial politik dan dibayangkan sebagai sesuatu yang bersifat terbatas sekaligus berkedaulatan. Kita bisa mengelaborasi konsepsi the imagined community secara luas dan komprehensif. Suatu komunitas masyarakat yang mulanya terdiri dari kelompok-kelompok yang diikat oleh sentimen daerah, suku, adat, bahkan agama. Diferensiasi dalam bentuk fisik dan non fisik tersebut menjadi prakondisi sosiologis dan politis bagi terkonstruksinya bangunan nasionalisme yang utuh. Berdirinya Budi Utomo pun awalnya karena ikatan lokal kedaerahan ditambah etnisitas yang kuat. Para pendirinya jelas semua adalah tokoh priyayi Jawa yang ingin membangun kembali nasionalime lokal yaitu kebangkitan etnis Jawa dalam sosial kemayarakatan. Inilah prakondisi sebenarnya yang menjadi akar kebangkitan nasional di Indonesia yang selalu diperingati itu.

Nasionalisme yang berskala lokal tersebut menjadi awal munculnya “rasa bersama” yang kemudian dikenal dengan istilah nasionalisme. Bicara nasionalisme tak terlepas dari Teori Kebangsaan yang mulai populer pada 1853 sejak munculnya istilah natie (nation). Para pemikir banyak mengutip teorinya Ben Anderson dan Ernest Renan mengenai nasionalisme. Tokoh yang terkahir mendefinisikan bangsa sebagai suatu ikatan komunitas (bangsa) yang bersatu, diikat oleh rasa kebersamaan, satu nasib dan kemauan (kehendak) bersama. Inilah syarat mutlak bagi terbangunnya nasionalisme suatu bangsa. Walaupun realita empiris masyarakat Indonesia sangat multietnis, agama, ras, adat dan bahasa namun semua itu menjadi perekat bersama. Renan mengatakan bahwa faktor perbedaan agama, ras, bahasa dan adat hanya sebagai faktor pendukung bukan fakor pembentuk bangsa.

Kembali ke konteks nasionalisme Indonesia. Jika harus diperiodisasikan, terjemahan nasionalisme bisa secara historis (masa lalu), sekarang dan masa depan. Kita mungkin memahami bahwa nasionalisme masa lalu adalah nasionalisme fisik. Dalam artian nasionalisme dipahami sebagai bentuk kecintaan kepada tanah air yang diterjemahkan dalam bentuk perlawanan kepada imperialisme barat. Sikap heroik seorang pejuang dalam membela tanah air dikatakan sebagai bentuk wujud nasionalisme terrtinggi. Memang tak salah interpretasi seperti itu, sebab sesuai zamannya. Bagaimana kemudian masyarakat memahami nasionalisme zaman sekarang? Bagaimana penterjemahan nasionalisme itu kini? Pertanyaan itulah yang menarik untuk didiskusikan bersama. Suatu negara bangsa (nation-state) sekarang tidak lagi berdiri sendiri yang dibatasi oleh sekat-sekat teritorial, bahasa, budaya dan ras. Sekat-sekat itu semua telah diputuskan oleh arus absolut informasi, komunikasi dan transportasi yang sifatnya transnasional. Orang menyebut dengan globalisasi (membuat semuanya menjadi satu kesatuan), yang akhirnya mewujudkan suatu masyarakat global atau gobal citizenship (warga negara dunia). Inilah konsekuensi nyata dari globaliasi sebagai usaha untuk menjadi dunia (world) ke dalam satu sistem.

Bagaimana kemudian warga di suatu nation-state menterjemahkan dalam kehidupan empirik tentang nasionalisme itu? Nasionalisme sekarang bukan lagi nasionalisme fisik dan dalam bentuk perlawanan senjata. Penulis mengistilahkan nasionalisme semacam itu adalah hard nationalism. Realita masyarakat sekarang sudah terintegrasi dalam satu sistem global yang diikat oleh global village. Nasionalisme kemudian mesti diinterpretasikan secara luas lagi menjadi soft nationalism. Yaitu penterjemahan nasionalisme ke dalam bentuk konteks keindonesiaan sekarang. Apa yang terjadi dalam masyarakat kita sekarang? Konsekuensi globalisasi sangat terlihat dalam bebagai dimensi kehidupan masyarakat Indonesia. Mulai dari ekonomi, imperialisme baru sekarang muncul dengan wajah terkesan ramah (sebagai penolong) yaitu sistem kapitalisme ekonomi yang juga mengglobal (kapitalisme global). Ancaman kapitalisme global menjadi momok yang menakutkan, khususnya bagi negara dunia ketiga (termasuk Indonesia). Kemudian politik konsumsi masyarakat saat ini, apalagi masih dalam suasana Pemilu. Sistem kepartaian di Indonesia yang telah terjerembab ke dalam lembah liberal menjadi liberalisasi politik. Sistem multi partai yang sejatinya dimiliki negara liberal sekarangpun kita gunakan. Ketiga dunia pendidikan, lahirnya UU BHP dan Perpres No. 76-77 Tahun 2007 yang menggariskan bahwa pendidikan sebagai usaha terbuka (bagi saham swasta asing / nasional). Telah terjadi pereduksian terhadap nilai-nilai filosofis pendidikan menjadi suatu kegiatan yang bernilai ekonomis. Persaingan dalam informasi, komunikasi juga transportasi yang dirasakan sekarang menjadi penguat bahwa resonansi globalisasi telah hadir bergetar di tengah-tengah kita.

Bagaimana bentuk kongkrit soft nationalism itu? Penulis berpendapat bahwa respon kolekif Indonesia sebagai suatu bangsa dengan bersikap anti terhadap globalisasi dan berbagai anak kandungnya, merupakan sikap yang reaksioner. Walaupun sikap anti Barat, protektif terhadap bangsa Indonesia bisa dikatakan wujud dari soft nationalism. Rasionalisasinya tetap ada, bahwa hal itu dilakukan sebagai bentuk anti neoimperialisme yang berwujud kepada kapitalisme global yang sejatinya tidaklah pro rakyat kecil dan keutuhan suatu bangsa. Bentuk soft nationalism tidak lengkap dan alangkah lebih sempurna jika nasionalisme kekinian itu diterjemahkan sebagai smart nationalism. Sikap rejeksionis terhadap yang berasal dari Barat secara membabi buta, akan lebih konstruktif dan solutif jika dibarengi dengan pencarian alternatif-alternatif sumber daya Indonesia untuk menciptakan ramuan bagi permasalahan bangsa. Bentuk dependensi Indonesia kepada negara asing dengan sendirinya akan berkurang intensitasnya secara kontinu.

Pilihan-pilihan untuk menjadi seorang nasionalis tidak lagi monolitik, yaitu berjuang mengangkat senjata. Para pedagang kecil yang menghidupkan perekonomian riil masyarakat kecil mempunyai nasionalisme sendiri. Seorang TKW dan TKI bekerja di luar negeri berperan sebagai pejuang devisa negara, walaupun tak jarang berujung nyawa. Nasionalisme seorang pejabat dan konglomerat bukanlah wujud nasionalisme sesungguhnya, jika perbuatan mereka tetap saja menggadaikan kekayaan alam negeri ini kepada asing. Bukanlah seorang nasionalis yang dengan tenangnya melihat kemiskinan dan pengangguran menjadi sarapan pagi bangsa Indonesia. Parameter seorang nasionalis atau bukan nasionalis bukan juga diukur dari tingginya pendidikan yang dia tempuh. Jika kecerdasnnya tersebut digunakan untuk membuka seluas-luasnya investasi asing minus proteksi, sehingga lahirlah freeport-freeport lainnya di negeri tercinta. Gedung-gedung tinggi mewah, yang tertancap jauh ke dalam bumi dan menjulang tinggi ke atas langit, seolah-olah memperlihatkan kegagahannya menjadi pemandangan yang tak asing. Berlomba-lomba untuk membangun gedung baja, tanpa merisaukan betapa kritisnya kondisi kota-kota besar di Indonesia sekarang. Semua itu menjadi biang keladi kemacetan, tergusurnya pedagang kecil, polusi udara, banjir, kriminalitas, kekurangan air bersih bahkan pemanasan global (global warming) yang sekarang menjadi wacana internasional. Nasionalisme jangan sampai sekedar slogan kosong tanpa arti dan implementasi atau hanya suatu narasi besar yang murni sejarah masa lalu. Tapi nasionalisme itu kini!! Masih terbuka jalan bagi bangsa ini untuk menjadi seorang yang nasionalis bagi tercapainya Indonesia sejahtera. Sehingga apa yang dikatakan Soekarno itu terwujud kemudian, “Jangan menjadi bangsa kuli di negeri sendiri!!!”

About satriwan

Saya seorang mahasiswa lulusan jurusan ilmu sosial politik fakultas ilmu sosial unj. Keinginan saya untuk berkuliah di kampus negeri merupakan cita-cita dari kecil. Namun, ragu rasanya hati ini untuk bisa berkuliah, sebab orang tua tidaklah mampu seperti keluarga lain. Saya mencoba meranatu mengikuti jejak orang tua (bapak) untuk bersekolah smp dan SMA di Bogor. Dengan prestasi yang lumayan saya bisa mendaptkan beasiswa ketika di SMA. Sehingga ditawarkan untuk mengikuti program PMDK dari salah satu PTN di Jakarta oleh guru SMA tersebut. Syukur pada Allah, akhirnya saya diterima sebagai mahasiswa di Universitas Negeri Jakarta melalui jalur PMDK. Pengalaman Organisasi 1. Ketua Rohis SMAN 1 Ciawi, Bogor (Periode 2003-2004) 2. Staf Bazis LDK UNJ (Periode 2005-2006) 3. Staf Dep. Kaderisasi Islamic Center Al-Ijtima'i, FIS UNJ (Periode 2006-2007) 4. Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Sosial Politik, FIS UNJ (Periode 2006-2007) 5. Ketua Bidang Pemberdayaan Anggota, HMI Koorkom UNJ (Periode 2006-2007 dan Periode 2007-2008) 6. Ketua Umum Keluarga Mahasiswa Minang (KMM) Koorkom UNJ (Periode 2008-2009) 7. Sekretaris Jenderal Himpunan Nasional Mahasiswa PKN (HIMNAS PKN) (Periode 2008-2009) 8. Aktif di Pusat Kajian dan Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (PKPIS), UNJ

2 responses »

  1. Harus ada pengejawantahan secara ril, mengenai nasionalisme “gaya Indonesia”, sehingga nasionalisme bukan hanya sebagai slogan kosong saja.
    Nasionalisme adalah kebanggaan kita bekerja, kebanggaan kita mengembangkan budaya kita, kerja keras kita membangun bangsa. Nasionalisme bukan sekedar kata sakral yang pengucapannya dilapalkan ketika ambalat diusik oleh Malaysia. Nasionalisme yang saya pahami adalah kerja keras dari seluruh elemen bangs untuk bangkit dan peduli akan nasib dan keberlangsungan NKRI ke depan. Indonesia tidak akan diremehkan jika kita mampu berpikir besar dan bekerja keras mewujudkan kesejahteraan bangsa. bangun jiwa dan raga.. kita mulai saat ini…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s