Mengurai Potensi Konflik Pasca Pemilu Oleh Satriwan

Standar

Pemilu legislatif baru saja dilaksanakan secara formal pada 9 April 2009 yang lalu. Memori publik mencatat semenjak persiapan sampai pasca pelaksanaan Pemilu Legislatif (Pileg) banyak yang menjadi catatan kritis untuk didiskusikan. Jika dibagi menjadi tiga fase Pemilu (Pileg), yaitu tahap persiapan, pelaksanaan dan Pasca Pemilu. Walaupun cenderung subjekif, namun publik menilai Pemilu sekarang banyak memberikan narasi kontraproduktif bagi pendidikan politik masyarakat. Mulai dari persiapan distribusi logistik yang bermasalah ke daerah-daerah, distribusi surat suara yang sampai pelaksanaan Pemilu kemarin tidak sesuai daerahnya. Surat suara untuk daerah Jawa Barat tapi dikirim ke Kalimantan. Daftar Temilih Tetap (DPT) tidak selesai yang berimplikasi lahirnya masyarakat golput karena sistem administrasi yang sangat lemah oleh KPU. Di sebagian daerah dilaksanakan Pemilu ulang karena masalah DPT.

Adanya pemaksaan disertai ancaman bagi para pemilih di daerah tertentu untuk memilih partai tertentu. Bahkan disinyalir ada manipulasi data dan pengarahan untuk memilih partai tertentu yang dilakukan oleh panitia di KPPS. Energi publik juga tercurahkan kepada konstelasi politik dan keamanan di Papua terkait sebagian kelompok Organisasi Papua Merdeka yang dianggap ingin membuat instabilitas dengan mengganggu pesta Pemilu. Di sisi lain pasca Pileg kemarin banyak partai terkejut dengan hasil quick count yang dirilis banyak lembaga survei. Hasil quick count sementara menempatkan posisi partai yang tadinya opitimis menang ternyata tidak. Hal ini membuat kondisi psikologis calon legislatif termasuk kader atau simpatisan partai politik tertentu menjadi terganggu. Bahkan ada seorang caleg yang terang-terangan mengambil kembali sumbangan yang telah diberikannya kepada Majelis Tal’im (di Ambon) atau meninggal dunia setelah tahu kalau suaranya kalah (di Bali).

Harapan yang tadinya optimis suara partainya menang, namun ternyata suara partai kalah jauh ditinggal caleg/partai lain. Kondisi itu membuat banyak kader satu partai menaruh curiga terhadap partai lain yang memperoleh suara di luar dugaan. Rasa curiga, emosi, konstelasi politik pasca Pemilu, kecurangan Pemilu, tindakan ancaman disertai kekerasan terhadap pemilih, semuanya menjadi legitimasi untuk terciptanya potensi konflik di masyarakat. Menarik untuk dicermati secara komprehensif, jika membaca Teori Konflik C. Wright Mills yang menggabungkan perspekstif konflik dengan kritik terhadap keteraturan sosial (Bernard Raho, 2007). Menurut penulis, potensi konflik baik horizontal maupun vertikal yang dikhawatirkan sekarang, hanya sebagai bentuk akumulasi psikologis dan politik masyarakat yang secara continue dihadapkan kepada realita sosial dan politik yang tidak sehat.

Masyarakat secara psikologis rentan terhadap isu-isu yang berkembang di masyarakat. Ragam masalah Pemilu yang tak kunjung selesai membuat masyarakat muak dan bertambah apatis (diprediksikan golput mencapai 30 %). Jika dielaborasi lagi, kecenderungan konflik politik yang terjadi sekarang  masuk ke dalam bentuk konflik non realistik. Yaitu konflik tersebut menjadi tujuan, tidak terkondisikan oleh objek (Trubus Rahardiansah, 2006). Ada usaha untuk mengkambinghitamkan pihak-pihak tertentu dalam masalah yang muncul pasca Pemilu ini. Publik yang makin cerdas ketika ada partai yang menyalahkan partai lain karena berlaku curang, ada yang menyalahkan KPU yang tidak becus melaksanakan Pemilu, bahkan menyalahkan pemerintah yang sengaja berlaku curang dengan mengarahkan masyarakat secara sistematis (dari KPU sampai KPPS) kepada partai yang sedang berkuasa. Sebagai epilog tak salah penulis berharap bagi masyarakat Indonesia untuk tidak terpancing terhadap realita sosial politik yang terkonstruksi. Sejatinya yang sedang terjadi adalah konflik elit, ketika dalam pergantian elit (Pileg) konflik tak terhindarkan karena masing-masing akan mengunakan semua cara seperti organisasi, uang, sistem, militer bahkan kekerasan fisik.

About satriwan

Saya seorang mahasiswa lulusan jurusan ilmu sosial politik fakultas ilmu sosial unj. Keinginan saya untuk berkuliah di kampus negeri merupakan cita-cita dari kecil. Namun, ragu rasanya hati ini untuk bisa berkuliah, sebab orang tua tidaklah mampu seperti keluarga lain. Saya mencoba meranatu mengikuti jejak orang tua (bapak) untuk bersekolah smp dan SMA di Bogor. Dengan prestasi yang lumayan saya bisa mendaptkan beasiswa ketika di SMA. Sehingga ditawarkan untuk mengikuti program PMDK dari salah satu PTN di Jakarta oleh guru SMA tersebut. Syukur pada Allah, akhirnya saya diterima sebagai mahasiswa di Universitas Negeri Jakarta melalui jalur PMDK. Pengalaman Organisasi 1. Ketua Rohis SMAN 1 Ciawi, Bogor (Periode 2003-2004) 2. Staf Bazis LDK UNJ (Periode 2005-2006) 3. Staf Dep. Kaderisasi Islamic Center Al-Ijtima'i, FIS UNJ (Periode 2006-2007) 4. Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Sosial Politik, FIS UNJ (Periode 2006-2007) 5. Ketua Bidang Pemberdayaan Anggota, HMI Koorkom UNJ (Periode 2006-2007 dan Periode 2007-2008) 6. Ketua Umum Keluarga Mahasiswa Minang (KMM) Koorkom UNJ (Periode 2008-2009) 7. Sekretaris Jenderal Himpunan Nasional Mahasiswa PKN (HIMNAS PKN) (Periode 2008-2009) 8. Aktif di Pusat Kajian dan Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (PKPIS), UNJ

2 responses »

  1. assalamu alaikum wr. wb.

    alhamdulilah…
    Selamat akhirnya golput berhasil memenangkan jumlah suara terbanyak!
    Saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung Partai Golput,
    baik yang dengan penuh kesadaran dan keikhlasan maupun yang tidak.
    Lho, maksudnya? Gak Jelas?😐

    Sudah saatnya kita ganti sistem!
    Sistem yang lebih “pro rakyat” dan lebih “berbudi”…
    Ayo kita ganti secepatnya, “lebih cepat lebih baik”…
    Mari kita “lanjutkan” perjuangan dakwah untuk menegakkannya!
    Sistem Islam, petunjuk dari Sang Maha Pencipta!

    Lihatlah dengan hati dan fikiran yang jernih!
    Aturan Sang Maha Pencipta diinjak-injak
    dan diganti dengan aturan yang dibuat seenak udelnya!
    Dan lihat akibatnya saat ini, telah nampak kerusakan
    yang ditimbulkan oleh sistem sekulerisme dan turunannya
    (seperti: kapitalisme, sosialisme, demokrasi, dsb) di depan mata kita!

    Banyak anak terlantar gara2 putus sekolah.
    Banyak warga sekarat gara2 sulit berobat.
    Banyak orang lupa gara2 ngejar2 dunia.
    Dan banyak lagi masalah yang terjadi gara2 manusia nurutin hawa nafsunya.

    Lihat saja buktinya di
    http://hizbut-tahrir.or.id/2009/05/12/kemungkaran-marak-akibat-syariah-tidak-tegak/
    http://hizbut-tahrir.or.id/category/alwaie/
    http://hizbut-tahrir.or.id/category/alislam/
    dan banyak lagi bukti nyata yang ada di sekitar kita!

    Untuk itu, sekali lagi saya mohon kepada semua pihak
    agar segera sadar akan kondisi yang sekarang ini…
    dan berkenan untuk membantu perjuangan kami
    dalam membentuk masyarakat dan negeri yang lebih baik,
    untuk menghancurkan semua bentuk penjajahan dan perbudakan
    yang dilakukan oleh manusia (makhluk),
    dan membebaskan rakyat untuk mengabdi hanya kepada Sang Maha Pencipta.

    Mari kita bangkit untuk menerapkan Islam!
    mulai dari diri sendiri.
    mulai dari yang sederhana.
    dan mulai dari sekarang.

    Islam akan tetap berlaku hingga akhir masa!
    Dan Islam akan menerangi dunia dengan cahaya kemenangan!
    Mohon maaf apabila ada perkataan yang kurang berkenan (-_-)
    terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.

    wassalamu alaikum wr. wb.

  2. Pemberlakuan demokrasi harus diiringi dengan niat tulus memperbaiki bangsa dan negara. Buka sekedar lip servis belaka. Kemudian Kecermatan dalam memahami kondisi sosial, tidak reaksioner adalah salah satu ciri kedewasaan masyarakat dalam berpolitik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s