De Civitate Dei dan Keindonesiaan Oleh Satriwan

Standar

“Taatilah negara sejauh ia tidak menghendaki yang bertentangan dengan kehendak Allah. Yang pertama bagimu hendaknya ayah dan ibu, lebih tinggi bahkan daripada orang tua hendaknya kau junjung tanah air (patria), apa yang diperintahkan orang tua melawan tanah air jangan diperhatikan, atau apa yang diperintahkan tanah air melawan Allah, itu juga jangan diperhatikan.” (Santo Augustinus, 354-430 M)

Mempelajari tentang pemikiran politik Barat, pasti tidak terlepas dari seorang tokoh Kristen yang juga seorang pendeta, dia bernama Santo Agustinus. Para peminat filsafat politik Barat, tentunya tidak asing lagi mendengar namanya. Salah satu hasil karya monumental Santo Agustinus yang terkenal yaitu bukunya yang berjudul The City of God, atau Negara Tuhan. Konsep pemikiran Agustinus mengenai filsafat politik kenegaraan memang sangat tajam. Walaupun konstruksi pemikirannya tersebut sedikit banyaknya dipengaruhi oleh Bible. Pertama, ide tentang suatu bangunan negara yang di dalamnya terdiri dari masyarakat dan pemerintahan yang diaberkati Tuhan. Pemerintahan yang dijalankan sesuai dengan hukum Tuhan dan dilaksanakan dalam rangka bentuk penghambaan total umat manusia kepada Sang Omni Potent.

Kain dan Habel
Konsep The City of God atau Negara Tuhan, yang dikembangkan oleh Augustinus, merupakan suatu pilar pemikiran yang memang tidaklah baru, sebab dalam Bible pun dinyatakan jika alam dunia, jagad kosmos ini merupakan wujud dari kerajaan Tuhan. Bagi Augustinus, ide Negara Tuhan merupakan suatu keharusan sosial historis, sebab Tuhan telah memberikan bentuk permulaannya yaitu ketika zaman Adam. Dikisahkan dalam Bible, bahwa Adam mempunyai anak yang sangat banyak, di antaranya adalah Kain (Kabil) dan Habel (Habil). Menurutnya Habil merupakan manifestasi atau bentuk analogis dari sebuah kepasrahan total kepada Tuhan. Sebab, ketika Habil ingin dikawinkan oleh Adam dengan saudara perempuannya secara silang (yakni Iklima), dia mematuhi kehendak ayahnya (sebagai keinginan Tuhan). Kemudian, ketika Tuhan memerintahkan kepada mereka untuk berkurban untuk Tuhan, maka ternyata Tuhan hanya menerima kurban yang diberikan oleh Habil. Melihat ”ketidakadilan Tuhan” tersebut, naluri hewaniah Kabil muncul. Kabil pada akhirnya membunuh saudara kandungnya tersebut, sebab Tuhan telah berlaku tidak adil karena menerima kurban dari Habil saja. Kemudian, kebencian Kabil kepada Habil tidak hanya itu, sebab ternyata sang ayah (Adam) menjodohkan Kabil dengan saudara silangnya (yakni Labuda) yang secara fisik tidak sesuai dengan keinginannya. Dia mengiginkan Iklimalah (karena menawan) yang seharusnya kawin dengan dia, bukannya Habil.

Menurut Augustinus, sikap hidup Habil yang hanya berpasrah diri pada Tuhan merupakan wujud simbolisasi dari konsep Negara Tuhan (The City of God). Negara Tuhan merupakan negara yang di dalamnya penuh loyalitas, penghambaan total pada sang Omni Present dan keikhlasan. Konsep ini merupakan konsep negara ideal yang diinginkan oleh Augustinus, meskipun dalam kenyataanya, tetap saja kehidupan dunia ini tidak hanya dipenuhi oleh rasa ikhlas, loyal dan pengabdian, melainkan juga penuh diisi oleh sikap iri hati, sombong, kebencian, buruk sangka dan berbagai bentuk tindakan kriminal. Bentuk yang terakhir ini merupakan simbolisasi dari karakter Kabil yang menjadi icon dari bentuk Negara Iblis atau Civitate Diaboli (Sekular State). Bentuk terakhir inilah yang menjadi klasifikasi kedua (bentuk negara) menurut Augustinus.

Indonesia dan The City of God
Memang menarik juga jika mendalami pemikiran Augustinus, dengan bentuk klasifikasi yang sederhana namun penuh nilai filosofis dan historis. Penting diketahui bahwa polarisasi antara Civitate Terrena dan Civitate Dei, merupakan polarisasi berdasarkan sifat-sifatnya, bukan berdasarkan teritorial. Menyinggung sedikit mengenai konsep Darul Kufr dan Darul Islam di dalam literatur klasik Islam, dikotomi antara konsep Negara Kufur dengan Negara Islam bisa diinterpretasikan secara teritorial pembedaannya. Pemikiran ahli filsafat politik Islam, seperti Al-Maududi juga sangat tegas dalam membuat penjelasan mengenai kedua konsep ini. Sampai ke Indonesia konsep Darul Kufr dan Darul Islam dipakai secara ideologi politik oleh DI/TII. Relevansinya dengan konteks Indonesia sebagai suatu negara-bangsa (nation state), secara sepintas mungkin tidak ada. Namun, bagi penulis memang sangat urgen untuk memikirkan kembali (rethinking) mengenai eksistensi bangsa Indonesia sebagai suatu bangsa yang besar. Jika kita merujuk pada pemikiran Augustinus mengenai Negara Tuhan dan diinterpretasikan secara kontekstual, maka akan muncul dari dalam diri kita masing-masing sebuah nawaitu (niat yang tulus), bahwa saya hidup mempertahankan Indonesia sebagai sebuah negara bangsa yang majemuk sebagai manifestasi penghambaan total kepada Tuhan Yang Maha Esa. Terbangunnya sikap hidup yang ikhlas, cinta kasih dan rela berkorban untuk kepentingan bangsa bukan kepentingan pribadi, partai politik, golongan dan semua ikatan politik identitas lainnya, merupakan wujud seorang yang sadar akan kemanusiaannya yang hidup di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kebencian, iri hati, kompetisi yang tidak sehat, pemiskinan, kesombongan, kebencian, amarah dan cinta diri (self love) hanyalah suatu sikap hidup yang pseudo eksistensinya. Sebab esensinya manusia merupakan makhluk yang baik dan bersih (fitrah). Simbolisasi Kabil yang sebenarnya baik namun ketika dia tidak bisa mengontrol diri terhadap naluri hewaniahnya, maka yang terjadi adalah rasa permusuhan, kebencian, iri hati. Tidak ada rasa keikhlasan, penghambaan total kepada Tuhan, cinta kasih dan damai. Hal inilah yang dirasa sudah mulai luntur bahkan hilang dari masyarakat Indonesia sekarang ini. Kehidupan bernegara, pemerintahan dari tingkat lokal sampai pusat penuh dengan intrik-intrik kotor, kebencian, saling memfitnah, amarah, tamak (korupsi) dan sebagainya. Semua elemen masyarakat mendambakan kehidupan yang harmonis, penuh kedamaian dan penghambaan total kepada Tuhan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Walaupun secara fitrah komposisi antagonistik antara damai dan perang, cinta dan benci, sombong dan rendah hati merupakan suatu keharusan demi keseimbangan jagad dunia ini. Augustinus pernah mengungkapkan jika suatu saat nanti pada akhirnya dunia akan dikuasai dan dipimpin oleh orang yang baik dan penuh ketaatan kepada Tuhan, simbolisasi The City of God. Bagaimana dengan Indonesia ?? Semoga.

About satriwan

Saya seorang mahasiswa lulusan jurusan ilmu sosial politik fakultas ilmu sosial unj. Keinginan saya untuk berkuliah di kampus negeri merupakan cita-cita dari kecil. Namun, ragu rasanya hati ini untuk bisa berkuliah, sebab orang tua tidaklah mampu seperti keluarga lain. Saya mencoba meranatu mengikuti jejak orang tua (bapak) untuk bersekolah smp dan SMA di Bogor. Dengan prestasi yang lumayan saya bisa mendaptkan beasiswa ketika di SMA. Sehingga ditawarkan untuk mengikuti program PMDK dari salah satu PTN di Jakarta oleh guru SMA tersebut. Syukur pada Allah, akhirnya saya diterima sebagai mahasiswa di Universitas Negeri Jakarta melalui jalur PMDK. Pengalaman Organisasi 1. Ketua Rohis SMAN 1 Ciawi, Bogor (Periode 2003-2004) 2. Staf Bazis LDK UNJ (Periode 2005-2006) 3. Staf Dep. Kaderisasi Islamic Center Al-Ijtima'i, FIS UNJ (Periode 2006-2007) 4. Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Sosial Politik, FIS UNJ (Periode 2006-2007) 5. Ketua Bidang Pemberdayaan Anggota, HMI Koorkom UNJ (Periode 2006-2007 dan Periode 2007-2008) 6. Ketua Umum Keluarga Mahasiswa Minang (KMM) Koorkom UNJ (Periode 2008-2009) 7. Sekretaris Jenderal Himpunan Nasional Mahasiswa PKN (HIMNAS PKN) (Periode 2008-2009) 8. Aktif di Pusat Kajian dan Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (PKPIS), UNJ

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s