Kemandegan Intelektual Oleh Satriwan

Standar

Manusia merupakan homo educendum yang memiliki potensi fisik dan nonfisik sebagai pembeda terhadap makhluk lainnya. Tuhan dengan kehendaknya mengcreate makhluk hidup yang bernama manusia sesempurna mungkin (insan kamil). Letak disparitas antara manusia dengan makhluk lainnya adalah pada kemampuan manusia untuk berpikir, yang dalam pilihan-pilihan berikutnya yaitu manusia mampu untuk berinisiatif, memilih, berencana dan mengevalusai atas segala yang sudah dilakukannya. Dalam konteks kehidupan kini, ada sebuah komunitas manusia yang hidup dengan pilihan untuk memilih memiliki status mahasiswa. Oleh berbagai elemen masyarakat, mahasiswa masih diletakkan pada porsi kalangan menengah ke atas (mampu secara ekonomi). Pilihan menjadi seorang mahasiswa kini menjadi sesuatu yang sangat didambakan bagi banyak generasi bangsa yang ingin melanjutkan tangga pendidikan menuju yang lebih tinggi.

Mengutip perkataan Rene Descartes, cogito ergo sum, jika diinterpretasikan secara bebas, makna ucapan itu bisa berarti saya (mahasiswa) berpikir, maka dengan keberpikiran saya (mahasiswa) tersebut, maka saya (mahasiswa) ada (eksis). Berpikir (think) mmerupakan sebuah kekuatan yang maha, yang mampu menghasilkan sebuah bentuk perubahan. Terbukti dalam peradaban yang muncul dalam sejarah manusia, tidak ada sebuah peradaban (civilization) yang muncul dan berkembang tanpa hasil dari daya pikir (intelektual). Walaupun menurut Albert Einstein, imajinasi lebih kuat dibandingkan intelektual. Namun, baik itu daya imajinasi maupun intelektual keduanya tetap bermuara kepada daya kerja otak.

Kembali kepada diskursus tadi, mahasiswa Indonesia dalam perkembangan sejarahnya telah menggoreskan sebuah catatan historis. Berawal dari berkumpulnya para pemuda (mahasiswa) dalam Konggres Pemuda yang dikenal dengan Sumpah Pemuda 1928. Kemudian jatuhnya Orde Lama, pada 1966 juga tak lepas dari peran mahasiswa untuk menggulingkan rezim berkuasa. Lanjut pada masa Orde Baru, 1974 meletusnya demonstrasi mahasiswa yang akhirnya dikenal dengan Peristiwa Malari. Selama 32 tahun Orde Baru berkuasa, ibaratnya kapal yang berlayar, pasti suatu saat akan berlabuh juga. Tahun 1998, mahasiswa secara kolektif (nasional) bersatu dengan elemen masyarakat lainnya untuk menuntut Soeharto turun. Realita sosial historis tersebut menjadi sebuah momentum bagi entitas komunitas mahasiswa secara susbstansial.

Sebuah perubahan pasti selalu terlahir dari ide, kreasi, daya pikir, kemauan untuk berubah dan selalu kuncinya adalah intelektualitas. Tulisan ini ditulis, di saat penulis melihat, kini teman-teman mahasiswa mengalami sebuah gejala “kemandegan intelektual”. Pengembaraan intelektual sebagaimana halnya Moh. Hatta, Tan Malaka, Syahrir, HOS Cokroaminoto, Sutan Takdir Alisyahbana, Nurcholis Madjid, Amien Rais, sampai kepada generasi Budiman Sujatmiko, menjadi barang yang langka dan mahal. Apa parameternya? Penulis melihat kini di kampus-kampus, kehidupan diskusi sudah mulai hilang, ruh berkompetisi membuat karya ilmiah (seperti Lomba Karya Tulis Mahasiswa, Pemikiran Kritis Mahasiswa dan program kreatifitas lainnya) sudah jarang ditemukan bahkan disorot publik. Mahasiswa cenderung terperangkap kepada budaya praktis dan instant. Bagaimana supaya cepat lulus, mendapat IP tinggi, melaksanakan tugas kuliah yang menumpuk dan banyak kegiatan lain yang hanya menjadikan mahasiswa tak ubahnya sebagai makhluk mekanik. Tak punya kreasi, miskin ide, selalu bergerak statis dan belum (tak) mau berubah. Makanya tidak heran, jika peran mahasiswa kini tidak lagi sentral seperti masa sebelumnya. Publik bisa menilai, ketika kampus-kampus menjadi sarang hedonisme dan menikmati dunianya (mahasiswa) sendiri dengan eksklusifitas tinggi.

Perbandingan rasio lulusan universitas dengan tingkat pengangguran di masyarakat yang cenderung bertambah, memang bayak disumbangkan dari komunitas lulusan kampus. Hal tersebut terjadi, karena mahasiswa sudah mulai miskin ide, impoten akan kreatifitas, tergoda dunia yang serba instan dan praktis tanpa didahului oleh proses yang pasti akan membawa mereka lebih berwawasan dan pengalaman luas. Kampus menjadi eksklusif ketika mahasiswanya tidak lagi peduli terhadap realitas sosial, politik, ekonomi, budaya bangsanya dan malah terjun ke arena politik praktis dengan mengorbankan idealismenya. Penulis sempat bertemu dengan seorang warga Sidoarjo, yang rumahnya terbenam lumpur, dia menanyakan kenapa mahasiswa tidak bereaksi (demonstrasi besar-besaran seperti ’98) ketika pemerintah dan perusahaan Lapindo Brantas belum (tidak) mempunyai willingness untuk menghilangkan penderitaan masyarakat Sidoarjo. Penulis menjadi tertegun mendengarnya, sebab sebagai mahasiswa seakan-akan keberadaan (eksistensi) mahasiswanya penulis sudah hilang terbenam bersama lumpur. Sudah waktunya mahasiswa menjadi makhluk yang berpikir dan penuh kreasi untuk menuntaskan tanggung jawab bangsa ke depan, semoga.

 

 

 

About satriwan

Saya seorang mahasiswa lulusan jurusan ilmu sosial politik fakultas ilmu sosial unj. Keinginan saya untuk berkuliah di kampus negeri merupakan cita-cita dari kecil. Namun, ragu rasanya hati ini untuk bisa berkuliah, sebab orang tua tidaklah mampu seperti keluarga lain. Saya mencoba meranatu mengikuti jejak orang tua (bapak) untuk bersekolah smp dan SMA di Bogor. Dengan prestasi yang lumayan saya bisa mendaptkan beasiswa ketika di SMA. Sehingga ditawarkan untuk mengikuti program PMDK dari salah satu PTN di Jakarta oleh guru SMA tersebut. Syukur pada Allah, akhirnya saya diterima sebagai mahasiswa di Universitas Negeri Jakarta melalui jalur PMDK. Pengalaman Organisasi 1. Ketua Rohis SMAN 1 Ciawi, Bogor (Periode 2003-2004) 2. Staf Bazis LDK UNJ (Periode 2005-2006) 3. Staf Dep. Kaderisasi Islamic Center Al-Ijtima'i, FIS UNJ (Periode 2006-2007) 4. Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Sosial Politik, FIS UNJ (Periode 2006-2007) 5. Ketua Bidang Pemberdayaan Anggota, HMI Koorkom UNJ (Periode 2006-2007 dan Periode 2007-2008) 6. Ketua Umum Keluarga Mahasiswa Minang (KMM) Koorkom UNJ (Periode 2008-2009) 7. Sekretaris Jenderal Himpunan Nasional Mahasiswa PKN (HIMNAS PKN) (Periode 2008-2009) 8. Aktif di Pusat Kajian dan Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (PKPIS), UNJ

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s